← Lintasan Yang Tak Pernah Selesai

Prolog: Amplop Biru Tua

Tsukuba, Oktober 2016

Koper itu sudah tiga kali kubongkar, dan sudah tiga kali pula Profesor Kaneda meneleponku untuk memastikan aku tidak lupa membawa adaptor colokan.

"Di Swiss colokannya tipe J," katanya. Suaranya serak karena flu yang membuatnya batal berangkat. "Bukan tipe C. Mahasiswaku yang terakhir ke sana terpaksa presentasi tanpa laptop. Jangan sampai kamu jadi yang kedua, Syauqi-kun."

Aku berjanji tidak akan menjadi yang kedua. Setelah telepon ditutup, aku duduk di lantai apartemen yang mulai dirayapi dingin dari bawah tatami, lalu memandangi koper yang terbuka di depanku.

Koper itu sudah tua. Ibu membelinya di Pasar Sawung enam tahun lalu, seminggu sebelum aku berangkat ke Jepang dengan beasiswa yang namanya terlalu panjang untuk diucapkan Bapak tanpa salah. Warnanya hijau botol, salah satu rodanya oleng, dan zipper-nya harus ditarik sambil diangkat sedikit supaya tidak macet. Sekarang aku sudah punya koper yang lebih bagus. Namun, untuk perjalanan pertama yang benar-benar penting ini, entah kenapa tanganku justru mengambil koper yang lama. Lusa aku akan berdiri di depan orang-orang yang selama ini namanya hanya kubaca di jurnal.

Mungkin karena aku orang yang percaya pada data, dan menurut data, koper ini belum pernah membawaku ke tempat yang salah.

Mungkin juga karena aku hanya rindu rumah.

Aku sedang mengosongkan kantong kecil di sisi dalam koper ketika jariku menyentuh sesuatu yang bukan kain. Sesuatu dari kertas, tebal, dengan sudut-sudut yang sudah tumpul.

Aku menariknya keluar, dan selama beberapa detik aku tidak bergerak sama sekali.

Ternyata sebuah amplop biru tua. Tepinya sudah kekuningan. Lemnya sudah lama lepas dan direkatkan lagi dengan selotip yang kini ikut menguning. Di bagian depannya tertulis dua kata, dengan tulisan tangan yang terlalu rapi untuk seorang anak laki-laki, tetapi terlalu kaku untuk seorang laki-laki dewasa:

Untuk Kenyo.

Aku tidak pernah membawanya ke Jepang. Aku yakin itu. Aku ingat menyimpannya di laci meja belajar di rumah Jalan Garuda, di bawah tumpukan soal SPMB yang tidak pernah kubuang. Aku ingat sengaja meninggalkannya di sana, di tempat yang aman dan jauh, seperti orang yang mengubur sesuatu bukan untuk melupakannya, melainkan supaya ia tahu persis di mana benda itu berada.

Lalu aku teringat Ibu, enam tahun lalu, berlutut di lantai kamarku sambil mengemasi koper ini. Ia melipat sarung, menyelipkan dua bungkus kerupuk udang di sela baju, lalu mengusap tutup koper pelan-pelan seperti sedang memandikan bayi. Selama tiga belas tahun, Ibu tidak pernah sekali pun bertanya tentang amplop itu. Namun, Ibu selalu punya caranya sendiri untuk tahu benda mana yang penting di kamar anaknya.

Aku tidak membukanya. Aku tidak perlu membukanya. Surat itu kutulis ulang enam belas kali, dan versi ketujuh belas, yang akhirnya kuanggap selesai, justru tidak pernah sampai. Aku masih hafal kalimat terakhirnya, dan aku tidak yakin sanggup melihat kalimat itu tertulis dengan tanganku sendiri.

Di luar, angin Oktober menggetarkan kaca jendela. Di kejauhan, kereta terakhir menuju Akihabara lewat dengan dengung panjang yang makin lama makin pelan, lalu hilang.

Kalau aku harus menjelaskan pekerjaanku kepada Bapak dalam satu kalimat, aku akan berkata begini: aku mempelajari waktu. Aku mempelajari bagaimana waktu bergerak, mengapa ia hanya bergerak ke satu arah, dan apakah ada celah, sekecil apa pun, yang bisa membelokkan arah itu. Waktu pertama kali mendengarnya, Bapak mengangguk-angguk, lalu bertanya apakah pekerjaan itu ada pensiunnya.

Selama enam tahun di laboratorium ini, aku sudah menulis ratusan halaman tentang waktu, semuanya dalam bahasa matematika. Tidak satu halaman pun bercerita tentang setahun antara 2002 dan 2003, masa ketika waktu terasa paling nyata bagiku. Saat itu setiap sore punya nama, dan setiap perjalanan angkot terasa terlalu pendek.

Pesawatku berangkat dari Narita besok pukul 10.40. Seminarnya berlangsung tiga hari. Kata Profesor Kaneda, tugasku hanya presentasi, menjawab pertanyaan, dan jangan lupa makan. Sama sekali tidak ada alasan untuk mengira perjalanan ini akan berbeda dari perjalanan ilmiah lainnya.

Namun, saat memegang amplop biru itu, tiba-tiba aku serasa kembali ke masa itu, empat belas tahun yang lalu. Aku berdiri di bawah gerimis dengan sepatu yang kemasukan air, sementara seorang gadis berkacamata baru saja menyebut namaku, padahal aku belum memperkenalkan diri.

Jadi, biar kuceritakan semuanya dari awal, sebelum aku lupa bagaimana rasanya dan sebelum aku berangkat.

Semuanya dimulai dari gerimis itu.

889296100104108
ON AIR   0:00