← Lintasan Yang Tak Pernah Selesai

Bab 1: Gerimis di Gang Kembangan

Siapa pun yang pernah menjadi anak SMA di Banyuwening pada awal 2000-an pasti kenal Jalan Raya Kembangan.

Panjangnya tidak sampai dua kilometer. Namun, di sepanjang jalan itu berjejer tiga SMA negeri, dua SMA swasta, satu toko buku bekas yang pemiliknya selalu tidur siang di balik etalase, lima kios fotokopi yang berlomba memasang tulisan JILID KILAT dengan huruf yang makin lama makin besar, dan tidak kurang dari tujuh lembaga bimbingan belajar. Pukul dua siang, jalan itu milik anak-anak berseragam putih abu-abu. Pukul lima sore, jalan itu milik angkot.

Di pertigaan dekat toko buku bekas itu berdiri bimbel yang paling tua di antara semuanya: Gading Putih.

Gedungnya dua lantai, dengan cat krem yang sudah mengelupas di bagian bawah. Papan namanya dari kayu jati, dan huruf-hurufnya dicat ulang setiap tahun oleh orang yang sama, dengan tangan yang makin gemetar, sehingga huruf G pada GADING kini agak miring ke kanan. Di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil: Bimbingan Belajar, Berdiri Sejak 1981.

Bimbel-bimbel lain di Jalan Kembangan punya brosur berwarna, AC, dan janji PASTI LULUS PTN ATAU UANG KEMBALI. Gading Putih tidak punya satu pun dari itu. Yang ia punya hanyalah reputasi dan Pak Darsono. Pendirinya itu mantan guru fisika yang konon tidak pernah tersenyum di foto mana pun sejak 1981.

Aku sebenarnya tidak berniat mendaftar di sana. Aku tidak berniat mendaftar di bimbel mana pun.

Yang berniat adalah Agus.


Agus Mahardi sebangku denganku sejak kelas satu di SMAN 7 Banyuwening, dan selama hampir dua tahun itu dia sudah menyeretku ke banyak hal: lomba makan kerupuk tujuh belasan (dia juara dua, sedangkan aku didiskualifikasi karena makan terlalu pelan), kepanitiaan pensi yang tidak pernah kuminta, dan sekali ke ruang BK karena dia yakin sekali jendela laboratorium kimia bisa dibuka dari luar. Jendela itu memang bisa dibuka dari luar. Yang tidak dia perhitungkan adalah Pak Satpam.

Agus gemuk, berisik, dan disukai semua orang dengan cara yang tidak pernah bisa kupahami sepenuhnya. Ayahnya punya tiga toko bangunan di Banyuwening, dan setiap pulang sekolah dia dijemput Pak Darmin dengan Kijang hijau tua yang bau pengharum jeruk. Dia bisa saja berteman dengan anak-anak yang naik motor Tiger dan nongkrong di kafe baru dekat alun-alun. Entah kenapa, dia memilih duduk di sebelah anak penjual gorengan yang lebih sering bicara dengan buku daripada dengan manusia.

"Teori Agus nomor tujuh," katanya suatu siang di bulan Maret, menjelang akhir kelas dua, sambil menyobek plastik roti cokelat dengan giginya. "Orang pintar yang nggak ikut bimbel itu kayak pemain bola yang nggak pernah latihan bareng tim. Bisa aja jago. Tapi nggak tahu cara mainnya."

"Teori nomor enam kamu kemarin bilang bimbel itu buang-buang uang."

"Itu buat aku. Kamu beda kasus." Dia mengunyah. "Lan, SPMB itu bukan ujian pintar-pintaran. Itu ujian cepat-cepatan. Di bimbel mereka ngajarin rumus pendek. Trik. Kamu ngerjain satu soal integral pakai cara lengkap tiga halaman, anak Gading Putih ngerjainnya dua baris."

"Aku nggak keberatan tiga halaman."

"Waktunya dua jam buat seratus soal, Alan."

Aku diam. Dalam dua tahun berteman, baru kali itu aku tidak bisa membantah argumen Agus.

Brosur yang dia selipkan di buku catatanku waktu itu belum menakutkan: Program Pemantapan Akhir Kelas 2, enam minggu, Mei–Juni 2002. Rp 150.000. Aku bisa membayarnya sendiri dari tabungan di kaleng bekas biskuit, hasil dua tahun tidak pernah jajan di kantin. Kubilang kepada Agus bahwa aku akan memikirkannya. Agus bilang itu artinya iya. Untuk sekali itu, dia benar.

Lalu, pada suatu subuh di bulan April, Mbah Kung tidak bangun.

Aku akan bercerita lebih banyak tentang Mbah Kung nanti. Untuk sekarang cukup kukatakan: tiga minggu setelah kami memakamkannya, aku hampir membatalkan semuanya. Rumah terasa terlalu sepi untuk ditinggal setiap sore. Ibu yang menyuruhku tetap berangkat.

"Mbah Kung yang paling seneng waktu kamu bilang mau les," katanya, sambil melipat sarung Mbah Kung yang terakhir dicuci. "Jangan bikin dia kecewa dua kali."

Aku tidak tahu apa kekecewaan yang pertama. Aku tidak bertanya.


Hari pertamaku di Gading Putih jatuh pada pertengahan Mei 2002. Siang itu panas dan berdebu, dan udara berbau aspal yang dipanggang matahari bercampur minyak dari gerobak tahu goreng di depan SMA Pelita.

Di gerbang, seorang laki-laki tua bersarung duduk di kursi plastik di samping pos jaga, menyeruput teh tubruk dari gelas belimbing. Radio transistor di pangkuannya memutar lagu Sheila on 7 dengan suara kresek-kresek. Dia melirik kami dari bawah peci yang sudah pudar warnanya.

"Anak baru?"

"Iya, Mbah," jawab Agus.

"Sandal di rak. Sepatu boleh dipakai. Kalau hujan, payung digantung, jangan diseret ke kelas." Dia menyeruput tehnya lagi. "Dan jangan pacaran di tangga darurat."

"Kami nggak…"

"Semua bilang begitu di hari pertama."

Belakangan aku tahu namanya Mbah Seno, dan dia sudah menjaga gerbang Gading Putih lebih lama dari umur kami berdua kalau dijumlahkan. Dalam seminggu dia hafal nama setiap murid. Dalam dua minggu dia tahu siapa naksir siapa. Anehnya, dia tidak pernah sekali pun membocorkannya. Kalau Gading Putih sebuah kerajaan, Pak Darsono adalah rajanya. Namun, Mbah Seno-lah yang memegang semua kuncinya.

Di dinding tangga menuju lantai dua, tiga baris kalimat dicat dengan huruf balok merah:

ATURAN GADING PUTIH

1. Terlambat lima menit, berdiri di belakang.

2. Nilai try out ditempel. Tidak ada yang dirahasiakan.

3. Yang bertanya tidak bodoh. Yang diam belum tentu pintar.

Di bawah aturan itu ada papan gabus selebar pintu, penuh kertas yang ditusuk paku payung: daftar peringkat try out bulan April. Ada seratus dua puluh nama, diurutkan dari atas ke bawah. Beberapa murid berdiri di depannya sambil menunjuk-nunjuk. Ada yang tertawa, ada yang diam saja dengan muka seperti habis ditampar.

"Itu papan neraka," bisik Agus. "Tiap bulan diganti. Katanya ada anak yang pindah bimbel gara-gara namanya tiga bulan berturut-turut di bawah garis merah."

Tanpa benar-benar bermaksud, aku membaca nama-nama teratas. Peringkat satu: seseorang dari SMA Pelita. Peringkat dua: seseorang dari SMA Gema Bangsa. Peringkat tiga:

ISTI KENYO (SMA Insan Mulia): 87,5

Waktu itu nama tersebut tidak berarti apa-apa bagiku. Aku hanya ingat berpikir bahwa itu nama yang aneh, seperti nama tokoh dalam cerita wayang yang dulu biasa didongengkan Mbah Kung.

Selama enam minggu program pendek itu, nama itu tidak pernah turun dari tiga besar. Aku tidak pernah melihat pemiliknya. Program pemantapan dibagi ke lima kelas, dan kelasku, IPA-5, ada di ujung lorong lantai satu, di sebelah kamar mandi yang pintunya tidak bisa dikunci. Kelas-kelas di lantai dua hanya kulihat pintunya. Aku tidak penasaran. Waktu itu aku belum tahu bahwa sebuah nama di papan gabus bisa punya wajah, suara, dan cara tertawa yang pendek dan tidak dibuat-buat.


Masalah yang sesungguhnya datang di akhir Juni, dalam bentuk dua lembar kertas yang tiba di rumah kami pada minggu yang sama.

Yang pertama brosur dari Gading Putih, dibagikan di hari terakhir program pemantapan: Program Intensif SPMB Kelas 3, Juli 2002–Juni 2003. Rp 1.200.000.

Yang kedua surat dari SMAN 7 Banyuwening, dengan kop sekolah berwarna biru dan tanda tangan kepala sekolah: Susan diterima sebagai siswa baru kelas satu, dan diminta melunasi uang gedung, seragam, dan buku paket sebelum tanggal lima belas Juli.

Susan adalah adikku. Dia dua tahun lebih muda dariku dan satu-satunya orang di rumah kami yang bicaranya lebih banyak daripada Agus. Dia menempelkan surat penerimaan itu di dinding ruang tengah, tepat di bawah kalender toko emas, dan selama tiga hari berturut-turut membacakannya keras-keras kepada siapa saja yang lewat, termasuk tukang sayur. Aku ikut senang, sungguh. Namun, akulah yang memegang pembukuan rumah sejak kelas dua SMP, di buku tulis bergaris bersampul gambar pemain bulu tangkis, dan aku tahu persis berapa jumlahnya kalau angka di surat itu ditambahkan dengan angka di brosurku.

Gaji sebulan Bapak sebagai pegawai golongan dua di bagian arsip Kantor Kecamatan Pandean, setelah dipotong cicilan koperasi, tidak sampai separuh dari jumlah itu. Ditambah untung gorengan Ibu, uang kami cukup untuk makan, listrik, dan sekolah kami berdua, tetapi tidak untuk satu rupiah pun lebih dari itu. Salah satu dari dua kertas itu harus mengalah. Bagiku, tidak sulit memutuskan yang mana.

Aku melipat brosur itu menjadi empat dan menyelipkannya di bawah kasur. Aku bilang ke Agus bahwa di kelas tiga aku akan belajar sendiri saja, pakai buku-buku soal bekas dari toko buku di Jalan Kembangan. Agus menatapku lama, lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia tidak punya teori apa-apa.

Namun, Susan punya kebiasaan meminjam penggaris dari bawah kasurku tanpa izin. Seminggu kemudian, saat aku pulang sekolah, ada amplop cokelat di atas meja belajarku. Isinya tiga lembar seratus ribuan dari tabungan arisan Ibu, brosur Gading Putih yang sudah dibuka lipatannya dengan bagian "uang muka, sisanya boleh dicicil enam kali" dilingkari pulpen, dan secarik kertas bertuliskan tangan Ibu yang besar-besar: Daftar. Jangan tanya.

Belakangan aku tahu Susan yang menemukan brosur itu, dan Susan pula yang menyerahkannya ke Ibu. Dia tidak pernah minta maaf karena sudah mengacak-acak kasurku. Aku tidak pernah memintanya.

Aku tidak menanyakan apa pun kepada Ibu. Aku tidak perlu bertanya, karena jawabannya ada di halaman belakang.

Di sana, di bawah pohon jambu, berdiri sebuah gerobak kayu bekas yang belum pernah kulihat sebelumnya. Rodanya baru diganti, papannya baru diampelas. Di sampingnya, masih berseragam dinas cokelat, Bapak berjongkok memegang kuas kecil dan mengecat tulisan di papan gerobak dengan huruf-huruf yang hati-hati: JAMU BU IMAH. Di dapur, dua panci besar yang biasanya hanya keluar saat Lebaran sudah bertengger di atas tungku, dan udara penuh bau jahe, kunyit, dan kencur yang baru diparut.

Mulai minggu itu, Ibu punya dua dagangan. Gorengan setiap pagi, jamu setiap sore sampai malam.

Malam itu, saat Ibu mengaduk adonan bakwan untuk dagangan besok, aku melihat ujung-ujung jarinya kuning oleh kunyit. Kuningnya tidak hilang meski sudah ia gosok dengan sabun colek.

Ibu menangkap arah tatapanku. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggeser tangannya ke balik baskom adonan dan terus mengaduk.

Itu pertama kalinya aku mengerti bahwa ada pertanyaan yang jawabannya lebih mahal daripada harganya.


Program kelas tiga dimulai pada Jumat ketiga bulan Juli 2002.

Seharusnya bulan itu puncak kemarau. Namun, sejak pagi langit Banyuwening tampak lesu. Awan kelabu menggantung rendah di atas atap-atap seng, dan orang-orang tua di kampungku menggeleng-geleng sambil berkata bahwa musim sekarang sudah tidak bisa dipercaya.

Gading Putih mengacak ulang semua kelas untuk program kelas tiga berdasarkan nilai try out terakhir. Entah bagaimana, namaku naik ke IPA-1, kelas di lantai dua yang selama enam minggu hanya kulihat pintunya. Agus juga masuk, dengan nilai setengah poin di atas batas. Menurut Agus, itu bukti bahwa Tuhan punya selera humor.

"Teori Agus nomor sembilan," katanya saat kami menaiki tangga, melewati papan neraka yang kini berisi peringkat bulan Juni. "Orang yang masuk kelas unggulan dengan nilai pas-pasan wajib duduk di sebelah orang yang masuk dengan nilai tinggi. Biar rata-ratanya aman."


Kelas IPA-1 adalah ruangan memanjang dengan empat puluh kursi lipat bermeja kecil, dua kipas angin di langit-langit yang berderit setiap putaran, dan papan tulis hitam yang permukaannya sudah keabu-abuan karena terlalu sering dihapus. Jendelanya menghadap ke Jalan Kembangan, jadi setiap kali ada angkot lewat sambil membunyikan klakson, setengah kelas otomatis menoleh.

Ruangan itu punya geografinya sendiri, dan aku butuh kurang dari lima menit untuk memetakannya.

Barisan depan adalah wilayah anak-anak yang serius: kebanyakan perempuan, kebanyakan berkerudung, buku catatan sudah terbuka bahkan sebelum guru datang. Barisan tengah adalah wilayah netral. Barisan belakang adalah wilayah kerajaan yang sama sekali lain.

Di sana, di dekat jendela, seorang gadis jangkung duduk menyamping dengan kaki bersilang, tertawa cukup keras untuk terdengar dari tangga. Rambutnya hitam lurus sebahu, dengan semburat highlight cokelat kemerahan yang waktu itu sedang digandrungi majalah remaja. Dua gadis lain duduk mengapitnya seperti dayang-dayang. Beberapa kursi dari mereka, seorang laki-laki berbadan besar dengan rambut kaku oleh gel memutar-mutar kunci motor di jarinya, matanya tidak lepas dari si gadis jangkung.

"Sarah Nuraini," bisik Agus, yang entah bagaimana selalu tahu nama semua orang. "Gema Bangsa. Yang di sebelahnya Rani sama Icha. Yang gede itu Andre, Gema Bangsa juga. Naksir Sarah dari zaman SMP, tapi Sarah nggak pernah noleh."

"Kamu tahu dari mana?"

"Teori Agus nomor dua: kalau mau selamat di tempat baru, hafalin dulu siapa yang nggak boleh disenggol." Dia menarikku ke dua kursi kosong di barisan tengah, agak ke belakang. "Ini zona aman. Cukup jauh dari guru, cukup jauh dari Andre."

Pukul tiga lewat lima, guru fisika kami masuk.

Pak Wiryo adalah laki-laki kurus berkemeja lengan pendek yang saku dadanya selalu bernoda tinta biru, seakan ada pulpen yang bocor di sana sejak 1990 dan dia memutuskan untuk berdamai saja dengannya. Dia tidak menyapa. Dia meletakkan tas, mengambil kapur, dan menulis satu kata di papan: IMPULS.

Dia mengucapkannya "im-PULS" , dengan tekanan di suku kata terakhir, seperti orang memanggil kucing bernama Puls. Di barisan belakang seseorang terkikik. Pak Wiryo tidak menoleh. Dia mengambil daftar hadir.

Aku duduk diam menunggu namaku, dengan ketegangan khas orang yang namanya sering salah disebut.

"Muhammad Alan… Sya… Sauki?"

"Syauqi, Pak," kataku. "Hadir."

"Sauki."

"Syauqi."

Pak Wiryo menatapku dari balik kacamatanya selama dua detik, menimbang apakah aku layak diperdebatkan, lalu memutuskan tidak. "Hadir," katanya, dan mencentang sesuatu.

Di barisan depan, seorang gadis berkerudung abu-abu muda sedikit menoleh. Aku hanya menangkap kilatan lensa kacamatanya sebelum dia kembali menghadap ke depan. Aku tidak memikirkannya. Ada empat puluh orang di ruangan itu, dan mungkin setengahnya menoleh.

Pelajaran dimulai. Pak Wiryo menggambar dua balok yang dihubungkan seutas tali lewat katrol, satu di atas meja dan satu tergantung bebas, lalu menuliskan massa masing-masing dan koefisien geseknya.

"Percepatan sistem. Dan tegangan tali. Ada yang mau coba?"

Hening. Kipas angin berderit.

Lalu sebuah tangan terangkat di barisan depan. Tangan gadis berkerudung abu-abu itu. Dia maju, mengambil kapur, dan menulis dengan huruf yang begitu rapi sampai terlihat seperti cetakan. Dia mendapatkan percepatannya dengan benar. Aku ikut menghitungnya di kepala, dan hasil kami sama. Lalu dia berhenti begitu sampai di tegangan tali. Kapurnya menggantung di udara. Dia mengerutkan kening, mencoret satu baris, menulisnya lagi, mencoretnya lagi.

"Hampir," kata Pak Wiryo. "Duduk dulu. Yang lain? Yang belakang?" Matanya menyapu kelas, lalu berhenti padaku. "Kamu. Sauki."

Agus menyikut rusukku.

Aku berdiri. Aku tidak suka berdiri di depan orang. Namun, aku lebih tidak suka melihat soal yang dibiarkan setengah jadi. Aku menghapus dua baris yang dicoret gadis itu, hanya dua baris itu karena sisanya sudah benar, lalu menuliskan persamaan gaya untuk balok yang tergantung dan memasukkan percepatan yang sudah ia temukan. Tiga baris. Selesai.

"Kamu sudah baca bab ini?" tanya Pak Wiryo.

"Sudah, Pak. Di rumah."

"Kenapa nggak angkat tangan tadi?"

Aku tidak punya jawaban yang bagus. Jawaban jujurnya: karena aku tidak pernah angkat tangan. Karena di SMAN 7 Banyuwening, anak yang angkat tangan dianggap sok, dan anak penjual gorengan yang angkat tangan dianggap lebih sok lagi. Aku sudah dua tahun belajar menjadi tidak terlihat, dan aku cukup ahli dalam hal itu.

"Nggak apa-apa, Pak," kataku, yang sama sekali bukan jawaban.

Pak Wiryo menatapku lagi selama dua detik, lalu menunjuk aturan nomor tiga yang juga ditempel kecil di atas papan tulis: Yang diam belum tentu pintar.

"Di sini," katanya, "kami lebih suka kalau yang pintar tidak diam. Duduk."

Saat aku berjalan kembali ke kursi, seseorang di barisan belakang bersiul pelan. Aku tidak menoleh. Namun, dari sudut mataku aku melihat Sarah Nuraini berhenti tertawa dan menatapku dengan ekspresi yang biasa dipakai orang untuk melihat barang di etalase yang belum ditempeli harga.

"Selamat," bisik Agus saat aku duduk. "Kamu baru aja kelihatan."


Hujan turun sebelum pelajaran selesai. Bukan hujan deras, melainkan gerimis yang rapat dan sabar, gerimis salah musim yang bisa bertahan sampai magrib tanpa pernah benar-benar memutuskan untuk menjadi hujan.

Di halaman depan, Pak Darmin sudah menunggu dengan Kijang hijaunya. Wipernya bergerak malas.

"Bareng, Lan?" tanya Agus, setengah badannya sudah di dalam mobil. "Pak Darmin bisa muter lewat Pandean."

"Nggak usah. Angkot D lewat sebentar lagi."

"Hujan, lho."

"Gerimis."

Agus menatapku seperti sedang menimbang teori nomor sekian tentang harga diri laki-laki, lalu mengangkat bahu. "Ya udah. Senin, ya."

Waktu itu aku tidak menjelaskan alasanku, dan aku tidak yakin bisa menjelaskannya lebih baik sekarang. Kijang Pak Darmin terlalu bersih untuk jalan tanah di gang rumahku. Aku tidak ingin Agus melihat mobil itu harus berhenti di mulut gang karena tidak muat masuk, lalu melihatku berjalan seratus meter melewati genangan, jemuran, dan kandang ayam tetangga sampai ke pintu rumah papan kami. Agus tidak akan berkata apa-apa. Justru itu yang membuatnya lebih buruk.

Jalan tercepat dari Gading Putih ke halte angkot adalah lewat Gang Kembangan, lorong sempit selebar dua orang dewasa yang menembus deretan rumah di belakang toko buku bekas. Kedua sisinya berupa tembok tinggi yang berlumut di bagian bawah. Air menetes dari ujung-ujung genteng yang saling menempel di atasnya, sehingga melewati gang itu saat hujan rasanya seperti menerobos tirai manik-manik yang basah.

Aku setengah berlari. Di ujung gang aku bisa melihat jalan raya, dan di jalan raya, sebuah angkot biru dengan huruf D besar di kaca depannya sedang melambat.

Aku mempercepat langkah.

Seseorang muncul dari belokan kecil di sisi kanan gang, tepat di depanku.

Aku tidak sempat berhenti. Bahuku membentur bahunya, keras, dan sesuatu jatuh ke tanah dengan bunyi tumpul yang basah. Aku terhuyung selangkah ke belakang, menabrak tembok berlumut, dan selama sedetik yang terasa sangat panjang aku hanya bisa melihat dua buku tergeletak di genangan air yang memantulkan langit kelabu.

"Maaf," kataku. "Maaf, maaf…"

Aku berjongkok dan memungut buku-buku itu. Yang pertama adalah buku kumpulan soal fisika dengan sampul tebal berlapis plastik, jadi air hanya menetes dari permukaannya. Yang kedua lebih kecil, sebuah novel bersampul kertas tipis, dan halaman depannya sudah menempel ke aspal. Aku mengangkatnya pelan-pelan, takut sobek. Di sampulnya ada gambar seekor anjing hitam besar dengan mata menyala di tengah kabut, dan judulnya dalam huruf kuning yang sudah luntur: Anjing Keluarga Baskerville.

Di bagian bawah sampul ada stempel ungu: Perpustakaan Daerah Banyuwening. Tidak untuk dibawa pulang lebih dari 14 hari.

"Kamu nggak apa-apa?"

Aku mendongak.

Gadis berkerudung abu-abu muda dari barisan depan berdiri di hadapanku. Kacamatanya berbingkai tipis, dan ada titik-titik gerimis di lensanya yang tidak dia hapus. Kulitnya kuning langsat dan wajahnya bersih tanpa riasan apa pun. Yang paling kuingat, dia sama sekali tidak terlihat marah. Dia terlihat seperti orang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang agak lucu.

"Iya," kataku. "Maaf. Aku nggak lihat."

"Aku juga nggak lihat." Dia menerima buku soal fisika dari tanganku, lalu menatap novel basah di tanganku yang lain. Untuk pertama kalinya ekspresinya berubah, sedikit meringis. "Aduh. Yang itu punya perpustakaan."

"Maaf…"

"Kamu udah bilang maaf empat kali." Dia mengambil novel itu, membuka halaman depannya pelan-pelan, meniupnya, dan memeriksanya di bawah cahaya kelabu. "Nggak sobek. Cuma basah. Nanti aku jemur di atas rice cooker." Dia mendongak dan tersenyum. "Dendanya lebih serem daripada Pak Wiryo. Tapi untung bukunya masih bisa dibaca."

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku berdiri di sana, basah, dengan air yang sudah merembes dari sepatu sampai ke kaus kaki, dan untuk alasan yang tidak bisa kujelaskan, aku merasa seperti baru saja diselamatkan dari sesuatu.

"Makasih, Alan," katanya.

Aku membeku.

Aku tidak menyebutkan namaku. Aku yakin sekali. Dalam sepersekian detik aku menimbang kemungkinan-kemungkinannya, seperti kebiasaanku menimbang pilihan jawaban di soal pilihan ganda. Dia teman Agus? Tidak mungkin, Agus pasti sudah cerita. Dia satu SMP denganku? Tidak, aku pasti ingat.

Dia melihat kebingunganku, dan senyumnya melebar sedikit, seperti orang yang sedang menikmati teka-teki yang jawabannya sudah dia ketahui.

"Syauqi," katanya. "Pak Wiryo salah sebut dua kali, kamu benerin dua kali. Orang yang benerin namanya sendiri dua kali di depan guru baru itu nggak bakal dilupain namanya. Jadi aku juga nggak bakal lupa." Dia menyelipkan novel itu ke balik kerudungnya dan menempelkannya ke dada supaya tidak terkena gerimis lagi. "Aku Kenyo. Isti Kenyo."

Peringkat tiga, pikirku. 87,5.

Untungnya aku tidak mengucapkannya.


Angkot D berhenti di mulut gang dengan mesin terbatuk-batuk. Kernetnya berteriak "Tanisari! Pandean! Tanisari!" ke arah yang tidak ada orangnya.

"Kamu naik D juga?" tanyanya.

"Iya. Turun Pandean."

"Aku Tanisari." Dia sudah setengah berlari. "Ayo, nanti ditinggal."

Aku menahan pintu geser angkot itu supaya dia bisa masuk lebih dulu. Itu bukan karena sopan santun. Pintu angkot D yang satu itu punya kebiasaan meluncur menutup sendiri kalau diparkir di jalan miring. Belakangan aku hafal setiap angkot D di Banyuwening dari bunyi knalpot dan stiker di kacanya.

Di dalam, bangku-bangku sudah setengah penuh. Ada seorang ibu dengan bakul sayur di pangkuan, dua anak SMP yang tertidur saling bersandar, dan di pojok kanan belakang, seorang gadis berkerudung krem yang memeluk payung lipat basah seperti memeluk kucing.

"Nyo!" serunya, dan wajahnya langsung cerah. Lalu dia melihatku, wajahnya langsung merah, dan dia menunduk seolah ada sesuatu yang sangat menarik di ujung sepatunya.

"Ana, ini Alan," kata Kenyo sambil duduk di bangku panjang sisi kiri. "Yang tadi ngerjain soal katrol."

"Oh," kata Ana kepada sepatunya. "Hai."

"Hai," kataku kepada jendela.

Aku duduk di sebelah Kenyo karena itu satu-satunya tempat yang kosong. Setidaknya itu yang kukatakan pada diriku sendiri. Jarak di antara kami tidak lebih dari sejengkal, dan setiap kali angkot berguncang melewati lubang di Jalan Cakrawala, jarak itu berkurang setengah jengkal, lalu kembali lagi.

Selama beberapa menit tidak ada yang bicara. Wiper tua di kaca depan berdetak lambat. Sopirnya bersenandung mengikuti lagu dangdut dari tape yang pitanya sudah molor. Bau tanah basah masuk lewat jendela yang tidak bisa ditutup rapat. Aku menatap ke luar dan berusaha memikirkan sesuatu untuk dikatakan. Aku memikirkan tujuh kemungkinan kalimat pembuka dan menolak ketujuhnya.

Kenyo yang akhirnya bicara.

"Tadi kamu cuma hapus dua baris."

Aku menoleh. "Hah?"

"Di papan. Kamu cuma hapus dua baris yang aku coret. Yang lain kamu biarin." Dia menatapku dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan. "Kebanyakan orang hapus semua terus nulis dari awal. Biar kelihatan mereka yang ngerjain."

"Yang lain udah bener," kataku. "Ngapain dihapus."

Dia diam sebentar, seperti sedang menyimpan jawaban itu di suatu tempat. Lalu dia tertawa pelan, tawa yang pendek dan tidak dibuat-buat. "Aku buntu di tegangan tali dari tadi pagi. Aku ngerjain soal yang mirip di rumah, salah terus. Ternyata tandaku kebalik di balok yang gantung."

"Itu jebakan paling umum. Arahnya kebalik."

"Kamu juga pernah kejebak?"

"Sering," kataku, dan itu jujur. "Makanya aku tahu."

Di pojok belakang, payung lipat Ana terlepas dari pelukannya dan jatuh ke lantai angkot, terbuka setengah dengan bunyi pop. Ibu penjual sayur memekik kecil. Ana memekik lebih keras. Aku membungkuk, menangkap gagangnya sebelum payung itu sempat mengembang penuh dan menyapu bakul sayur, lalu menutupnya paksa dan mengembalikannya.

"Ma-makasih," kata Ana, wajahnya semerah tomat di bakul ibu itu. "Maaf, Bu. Maaf."

"Ana memang begitu," bisik Kenyo padaku, tidak cukup pelan untuk tidak terdengar oleh Ana. "Dari TK."

"Nyo!"

"Apa? Aku bilang kamu baik."

"Kamu bilang aku ceroboh."

"Dua-duanya bener."

Ana mendengus, tapi aku melihat sudut bibirnya terangkat. Untuk pertama kalinya sejak naik angkot itu, aku merasa bahuku turun sedikit dari posisinya yang tegang di dekat telinga.

Angkot berbelok ke Jalan Cakrawala. Lampu-lampu toko mulai menyala satu per satu, memantul di aspal basah dalam garis-garis kuning dan merah. Kenyo menatap ke luar jendela, dagunya bertumpu pada buku soal fisika yang ia peluk.

"Hujan bikin semuanya terasa lambat, ya," katanya, lebih kepada kaca jendela daripada kepadaku. "Aku suka. Jadi punya alasan buat diem sebentar."

Aku tidak menjawab. Waktu itu aku belum tahu bahwa kalimat seperti itu, diucapkan dengan cara seperti itu, oleh orang seperti itu, bisa menetap di kepala seseorang selama empat belas tahun.


Masjid Tanisari berdiri di pertigaan, kubah hijaunya mengilap oleh hujan. Kenyo dan Ana turun di sana.

"Duluan ya, Alan," kata Kenyo dari pintu, setengah badannya sudah di bawah payung Ana. Kali ini, ajaibnya, payung itu terbuka dengan benar.

"Hati-hati."

Angkot kembali bergerak. Karena aku duduk dekat jendela belakang, aku masih bisa melihat mereka beberapa detik lebih lama.

Saat itulah aku melihat mobil itu.

Sebuah sedan perak terparkir di depan masjid dengan lampu menyala dan mesin hidup. Aku bisa melihat asap tipis dari knalpotnya membentuk kabut kecil di udara yang dingin. Seorang laki-laki berkemeja putih keluar dari kursi pengemudi membawa payung hitam besar, lalu berjalan cepat ke arah Kenyo.

Kenyo tidak berhenti. Dia tidak menoleh. Dia menggandeng lengan Ana dan terus berjalan di bawah payung lipat kecil yang terlalu sempit untuk dua orang, melewati laki-laki berpayung hitam itu seperti melewati tiang listrik. Laki-laki itu berdiri sebentar dengan payung terbuka di tangan, lalu kembali ke mobilnya. Sedan perak itu mulai bergerak pelan, sangat pelan, sepuluh meter di belakang kedua gadis itu, seperti anjing penjaga yang disuruh menjauh tapi tidak mau pulang.

Lalu angkot berbelok, dan mereka hilang dari pandanganku.

Aku tidak tahu harus berpikir apa tentang itu, jadi aku tidak memikirkannya. Setidaknya aku mencoba. Dua puluh menit kemudian aku turun di Pandean. Di mulut gang, gerobak JAMU BU IMAH sudah mangkal di bawah lampu petromaks, catnya masih mengilap, dan dua tukang ojek duduk di bangku kayu menyeruput beras kencur sambil menunggu hujan reda. Ibu melihatku sebelum aku sempat menyapa.

"Basah semua, Lan," katanya, sudah mengambil handuk kecil dari tiang gerobak. Ujung jarinya masih kuning oleh kunyit. "Gimana bimbelnya?"

"Baik, Bu."

"Gurunya?"

"Baik."

"Temannya?"

Aku berpikir sedikit terlalu lama.

"Baik," kataku.

Ibu menatapku, lalu tersenyum dengan cara yang membuatku curiga dia tahu lebih banyak dari yang kuceritakan. Ibu selalu tahu lebih banyak dari yang kuceritakan.

Dari ujung gang, azan magrib mulai berkumandang dari Masjid Al-Ikhlas. Aku mengembalikan handuk itu kepada Ibu dan berlari kecil ke sana, masih dengan seragam yang setengah basah, dan sempat menjadi makmum di rakaat kedua. Dari saf belakang, aku mendengar suara Bapak membaca Al-Fatihah, tenang dan tidak tergesa-gesa, seperti setiap hari. Untuk beberapa menit, aku tidak memikirkan apa pun.

Malam itu, berbaring di kasur kapuk yang selalu bau apak setiap kali hujan, aku tidak memikirkan impuls, tegangan tali, atau papan neraka di dinding tangga. Aku memikirkan dua hal, berulang-ulang, seperti dua soal yang tidak mau selesai.

Yang pertama sebuah nama: Isti Kenyo.

Yang kedua sebuah pertanyaan: kenapa seorang gadis yang dijemput sedan perak dengan sopir berpayung memilih berjalan di bawah gerimis, berdesakan di bawah payung sahabatnya, dan pulang naik angkot yang atapnya bocor?

Aku butuh hampir setahun untuk menemukan jawabannya.

Ketika aku menemukannya, sudah terlambat.

889296100104108
ON AIR   0:00