Bab 6: Mie Ayam Pak Kumis
Tidak ada yang pernah mengusulkan agar kami berempat menjadi satu geng. Tidak ada rapat, tidak ada sumpah, dan tidak ada nama, meskipun Agus sudah mengusulkan sebelas nama dalam satu minggu, dari Empat Sekawan sampai Papan Neraka Bersatu, dan Kenyo menolak semuanya dengan alasan yang berbeda-beda.
"Teori Agus nomor dua puluh," kata Agus akhirnya, setelah usulan kesebelasnya ditolak. "Geng yang punya nama pasti bubar. Jadi kita nggak usah punya nama. Biar awet."
Waktu itu kami semua tertawa. Aku masih ingat bunyi tawa kami, empat suara yang berbeda di bawah satu tenda biru, dan aku masih ingat bahwa tidak satu pun dari kami yang berpikir untuk mengujinya.
Tenda biru itu milik Pak Kumis.
Mie Ayam Pak Kumis mangkal di sudut pertigaan Jalan Raya Kembangan, sepuluh langkah dari gerbang Gading Putih: satu gerobak kaca berisi mi kuning, ayam kecap, dan pangsit goreng, empat meja kayu, dan enam belas bangku plastik yang warnanya tidak pernah sama. Pak Kumis sendiri adalah laki-laki bertubuh besar dengan kumis lebat yang ujungnya melengkung ke atas seperti gagang sapu ijuk yang terbalik. Tidak ada yang tahu nama aslinya. Agus pernah bertanya, dan Pak Kumis hanya menjawab, "Kumis, Mas. Kumis Sugianto. Yang Sugianto nggak usah dipakai."
Dia memanggil kami anak-anak papan neraka, karena setiap Senin pertama dia ikut membaca papan di tangga Gading Putih, dengan alasan ingin tahu siapa saja pelanggannya yang akan menjadi dokter.
Kami punya tempat duduk tetap di meja paling ujung, dan pesanan tetap yang tidak pernah berubah. Agus memesan mie ayam bakso dengan pangsit tambahan dan dua gelas es teh, satu untuk diminum sekarang dan satu lagi, katanya, untuk cadangan. Kenyo memesan mie ayam tanpa daun bawang dengan kecap yang banyak, dan aku tahu kenapa: dia memesan semua makanan supaya rasanya mirip telur dadar pakai kecap. Ana memesan mie ayam biasa, lalu menumpahkan sambalnya ke rok, ke meja, atau ke tas Agus, bergantian, seolah dia punya jadwal.
Aku hanya memesan es teh. Lima ratus rupiah.
"Udah makan di rumah," kataku pada hari pertama, dan pada hari kedua, dan pada hari ketiga.
Pada hari keempat, ketika aku mengulanginya lagi, Pak Kumis meletakkan semangkuk mie ayam di depanku tanpa diminta.
"Aturan baru, Mas," katanya, sambil mengelap tangannya di celemek. "Anak yang masuk sepuluh besar papan neraka, mie ayamnya setengah harga. Seribu lima ratus."
Agus langsung mengangkat tangan. "Saya lima puluh delapan, Pak."
"Lima puluh delapan bayar penuh, Mas," kata Pak Kumis tanpa berkedip. "Ditambah pajak."
Aku memandang Pak Kumis, lalu memandang Kenyo. Kenyo sedang menuang kecap ke mangkuknya dengan wajah yang sangat serius, seperti orang yang tidak pernah mendengar tentang aturan baru apa pun di dunia ini. Ana menunduk. Pak Kumis sudah kembali ke gerobaknya, memotong ayam dengan gerakan yang terlalu bersemangat.
Aku tidak pernah bisa membuktikannya. Selama hampir setahun, aku makan mie ayam setengah harga di bawah tenda biru itu, dan tidak sekali pun aku menemukan saksi, kuitansi, atau pengakuan. Holmes pasti bisa. Aku hanya bisa memakan mie ayamku pelan-pelan, karena kalau terlalu cepat, aku takut seseorang di meja itu akan melihat apa yang ada di wajahku.
Geng tanpa nama itu punya lelucon-lelucon yang terus diulang, seperti setiap geng.
Teori Agus, tentu saja, yang nomornya terus naik dan isinya makin tidak masuk akal. Jumlah Ana jatuh, yang dicatat Agus di menu catatan Nokia-nya dengan judul ANA JATUH: STATISTIK RESMI, dan yang pada akhir Oktober sudah mencapai angka empat belas. Dua saku celanaku, yang kiri untuk pengamen dan yang kanan untuk ongkos, yang menurut Kenyo membuktikan bahwa aku satu-satunya orang di Banyuwening yang punya sistem akuntansi di celananya.
Dan pertanyaan aneh Kenyo. Satu setiap perjalanan, di angkot D, setelah lampu merah pertama.
"Kalau kamu bisa nyimpen satu bunyi selamanya," tanyanya suatu sore, "bunyi apa?"
Agus, yang hari itu ikut naik angkot karena Kijangnya masuk bengkel, menjawab lebih dulu. "Bunyi bakso jatuh ke kuah."
"Bunyi kucing yang lagi makan," kata Ana.
Kenyo menoleh kepadaku. Aku memandang keluar jendela, ke deretan toko di Jalan Cakrawala, dan menjawab dengan jujur sebelum aku sempat mencegah diriku sendiri.
"Argo wartel."
Agus tertawa terbahak-bahak. Ana ikut tertawa, sedikit terlambat. Kenyo tidak tertawa. Dia kembali ke novelnya, dan aku melihat telinganya, satu-satunya bagian wajahnya yang tidak tertutup kerudung dan tidak bisa dia kendalikan, berubah merah.
Pada minggu terakhir bulan Oktober, Kenyo mulai membawa Discman.
Discman itu berwarna perak, tipis, dengan tutup bundar yang bisa dibuka seperti kerang, dan dia menyimpannya di dalam tas di samping novelnya. Suatu sore, setelah lampu merah pertama, alih-alih bertanya, dia memasang satu earphone di telinga kirinya dan menyodorkan yang satu lagi kepadaku.
Kabel earphone itu pendek. Untuk memakainya, aku harus bergeser lebih dekat, sampai bahu kami hampir bersentuhan, dan setiap kali angkot D melewati lubang di Jalan Cakrawala, bahu kami benar-benar bersentuhan, dan aku pura-pura tidak memperhatikan, dan dia juga pura-pura tidak memperhatikan.
Lagu yang dia putar adalah lagu baru dari sebuah band Inggris, dengan piano yang pelan dan suara laki-laki yang terdengar seperti sedang meminta maaf. Aku tidak mengerti semua liriknya. Aku hanya menangkap bahwa penyanyinya ingin kembali ke awal.
"Lagu ini tentang orang yang pengen balik ke awal," kata Kenyo, seolah dia bisa membaca pikiranku. "Ke sebelum semuanya salah."
"Nggak bisa," kataku. "Waktu cuma bergerak ke satu arah."
"Kamu yakin?"
"Entropi. Hukum kedua termodinamika. Gelas yang pecah nggak bisa nyatu sendiri."
Dia memandangku. Lagu itu terus berputar di antara telinga kami, menghubungkan kami lewat seutas kabel tipis.
"Itu jawaban fisika," katanya. "Aku nanya jawaban kamu."
Aku tidak menjawab. Waktu itu aku tidak punya jawaban yang lain.
Empat belas tahun kemudian, aku sudah menghabiskan seluruh hidup dewasaku untuk pertanyaan itu. Aku sudah menulis ratusan halaman tentang mengapa waktu hanya bergerak ke satu arah, dan apakah ada celah, sekecil apa pun, yang bisa membawanya kembali. Setiap kali aku memulai sebuah persamaan baru, tiba-tiba aku serasa kembali ke angkot D, dengan satu earphone di telinga kanan dan bahu seseorang di bahu kiriku, dan aku sadar bahwa aku masih mencoba menjawab pertanyaannya dengan cara yang dia minta.
Ramadan tahun itu dimulai pada tanggal enam November.
Gading Putih menggeser jadwalnya. Kelas dimulai pukul setengah dua dan selesai pukul empat, supaya semua orang sempat pulang sebelum magrib. Mbah Seno mengganti teh tubruknya dengan sebotol air putih yang tidak pernah dia minum sampai azan, dan Pak Wiryo, yang menurut Agus tidak mungkin berpuasa karena manusia tanpa ekspresi pasti juga tanpa rasa lapar, tetap mengajar dengan wajah yang persis sama, dua detik menatap, lalu kapur.
Di rumah, dapur pukul tiga pagi menjadi lebih ramai dari biasanya. Ibu, yang sudah pulih dari tifusnya meskipun kami masih melarangnya mengangkat panci besar, menggoreng bakwan untuk dijual dan menanak nasi untuk sahur sekaligus. Mbah Uti mengupas bawang di dingklik sudutnya. Susan bangun hanya ketika bau tempe goreng sampai ke kamarnya, dan langsung duduk di depan piring dengan mata yang masih terpejam. Bapak memimpin doa sebelum imsak dengan suara yang pelan, seperti tidak mau membangunkan tetangga, padahal semua tetangga juga sedang sahur.
Selama Ramadan, gerobak JAMU BU IMAH buka setelah tarawih, karena tidak ada yang membeli jamu ketika sedang berpuasa. Sebagai gantinya, Ibu menjual gorengan untuk takjil di mulut gang selepas asar, dan gorengan itu selalu habis sebelum azan. Susan menjual ceritanya kepada para pembeli takjil, dan aku curiga beberapa tetangga membeli bakwan hanya untuk mendengar Susan bercerita.
Bapak mengimami tarawih di Masjid Al-Ikhlas setiap malam, dengan bacaan yang tidak pernah terburu-buru, sehingga jamaah Al-Ikhlas selalu pulang paling akhir di seluruh Pandean, dan tidak ada yang mengeluh. Aku berdiri di saf pertama, tepat di belakangnya, di tempat yang dulu selalu ditempati Mbah Kung.
Telepon malam kami pindah ke pukul setengah sembilan, setelah tarawih. Pak Harun memperpanjang jam buka wartelnya selama Ramadan dan mengganti siaran wayangnya dengan pengajian, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, katanya, dia mendengarkan ceramah sampai selesai. Di ujung telepon, Kenyo baru pulang dari tarawih di masjid kompleks perumahannya, dan suaranya selalu sedikit serak, karena dia ikut membaca ayat-ayat yang dia hafal bersama imam, dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
Discman-nya tidak memutar band Inggris lagi selama Ramadan. Dia menggantinya dengan nasyid, kaset Raihan dan Snada yang direkam ulang Ana ke CD kosong.
"Kenyo mode Ramadan," kata Agus.
"Agus mode puasa tapi tetap ngomongin bakso," balas Kenyo, dan untuk pertama kalinya Agus tidak punya teori untuk menjawabnya.
Pada Jumat kedua Ramadan, kami berbuka puasa bersama di tenda Pak Kumis.
Itu ide Ana. Dia mengusulkannya di angkot dengan suara yang kecil, seolah takut ditolak, dan Kenyo langsung setuju, dan Agus langsung setuju dengan syarat dia boleh memesan dua porsi, dan aku setuju terakhir, setelah menghitung isi saku kananku dua kali.
Kelas selesai pukul empat. Kami menunggu di tenda biru itu selama hampir dua jam, mengerjakan soal-soal SPMB tahun lalu di meja kayu sambil menahan bau kuah ayam yang dimasak Pak Kumis untuk berbuka. Itu dua jam yang paling berat bagi Agus seumur hidupnya, katanya. Ana menjatuhkan pensilnya empat kali. Kenyo menyelesaikan dua puluh soal Fisika dan berhenti di soal kedua puluh satu, lalu mendorong bukunya ke arahku tanpa berkata apa-apa, dan aku mengerjakannya di pinggir halaman bukunya, dan dia menulis sesuatu di sebelah pekerjaanku dengan tinta biru, lalu menutup bukunya sebelum aku sempat membacanya.
Ketika langit di atas Jalan Raya Kembangan berubah jingga, Pak Kumis meletakkan sepiring kurma dan empat gelas teh manis hangat di meja kami.
"Gratis, buat yang puasa," katanya. Lalu dia memandang Agus. "Yang lima puluh delapan juga."
Azan magrib terdengar dari masjid kecil di ujung Jalan Raya Kembangan, pertama dari pengeras suara masjid itu, lalu dari masjid-masjid lain yang lebih jauh, bersahut-sahutan seperti gema yang datang dari segala arah. Kenyo menengadahkan kedua tangannya dan berdoa dengan bibir yang bergerak tanpa suara. Ana dan Agus mengikutinya. Aku juga mengikutinya, dan ketika aku membuka mata, Kenyo sedang memandangiku, lalu cepat-cepat memandang kurmanya.
Setelah membatalkan puasa dengan kurma dan teh manis, kami berjalan ke masjid kecil itu untuk salat magrib. Aku dan Agus di saf laki-laki di depan. Kenyo dan Ana di belakang tirai hijau yang memisahkan saf perempuan. Sebelum masuk, aku sempat melihat Kenyo mengeluarkan mukena dari tasnya, mukena putih yang dilipat sangat rapi, dengan sulaman bunga kecil berwarna biru di tepinya. Aku tidak tahu kenapa aku mengingat sulaman itu. Aku hanya tahu bahwa aku mengingatnya.
Kami kembali ke tenda biru dan makan mie ayam ketika langit sudah gelap dan lampu-lampu toko di Jalan Raya Kembangan menyala satu per satu. Agus menghabiskan dua porsi dan memesan porsi ketiga untuk dibungkus. Ana bercerita tentang adik-adik kelasnya di ROHIS yang selalu mencari Kenyo, karena Kenyo adalah kakak mentor yang paling sabar, yang tidak pernah marah ketika adik-adik kelas itu belum hafal doa sehari-hari.
"Bukan sabar," kata Kenyo. "Aku cuma ingat dulu aku juga belum hafal."
"Sampai sekarang?" tanya Agus.
"Sampai kelas sepuluh, Gus. Jangan ngarang."
Malam itu, dalam perjalanan pulang, aku menyadari sesuatu yang membuatku tidak bisa tidur. Selama dua jam menunggu azan di bawah tenda biru itu, aku tidak sekali pun memikirkan harga mie ayam.
Pada hari Senin di minggu ketiga Ramadan, aku tidak masuk Gading Putih lagi.
Kali ini bukan karena demam dan bukan karena gerobak. Mbah Uti sudah dua hari mengeluh lututnya sakit, dan pagi itu tensinya, kata Ibu yang meminjam alat tensi dari tetangga, terlalu tinggi untuk orang yang sedang berpuasa. Bapak tidak bisa izin dari kantor kecamatan. Ibu masih belum boleh berjalan jauh. Jadi aku yang mengantar Mbah Uti ke puskesmas Pandean naik becak, dan kami duduk di bangku panjang ruang tunggu dari pukul satu siang sampai hampir pukul empat, di antara bayi-bayi yang menangis dan bapak-bapak tua yang batuk, sementara Mbah Uti menggenggam tanganku dengan tangannya yang kurus dan dingin dan bercerita tentang Mbah Kung muda, yang menurutnya dulu adalah laki-laki paling tampan di Pandean dan paling bodoh dalam urusan perempuan.
"Kayak kamu," katanya, tanpa penjelasan lebih lanjut.
Keesokan harinya, ketika aku masuk kelas IPA-1, fotokopian itu sudah menunggu di atas kursiku.
Satu bundel, distaples di pojok kiri atas, dengan tanggal hari Senin yang ditulis dengan tinta merah. Di pinggir halaman kedua, Alan bilang: gambar dulu, baru hitung. Di pinggir halaman keempat, Pak Wiryo nanya kamu ke mana. Aku bilang kamu nganter nenek. Dia bilang "hm" . Itu artinya dia khawatir.
Aku belum memberi tahu siapa pun ke mana aku pergi. Aku menoleh ke barisan depan. Kenyo sedang menggaris kolom tanggal di lembar absen dengan penggaris, tidak menoleh ke belakang sama sekali.
Sore itu, di angkot, aku menanyakannya.
"Minggu malam di telepon kamu bilang lutut Mbah Uti sakit udah dua hari," katanya, tanpa mengangkat mata dari novelnya. "Senin kamu nggak masuk. Kamu nggak demam, suaramu di telepon normal. Gerobak nggak buka siang-siang. Ibu kamu udah sembuh." Dia membalik halaman. "Sisanya tinggal nenek."
Aku baru saja dideduksi, dan rasanya, kalau aku jujur, menyenangkan sekali.
Agus memandangi bundel di tanganku dengan wajah orang yang dikhianati oleh negaranya sendiri.
"Kok aku nggak pernah dikasih?" protesnya, cukup keras sehingga barisan depan bisa mendengar.
Kenyo tetap tidak menoleh. "Kamu masuk terus, Gus."
"Teori Agus nomor dua puluh satu," kata Agus kepada seluruh kelas. "Di negeri ini, kerajinan tidak pernah dihargai."
Ana tertawa sampai bangkunya bergeser, dan dia jatuh ke lantai untuk kelima belas kalinya. Agus mencatatnya di Nokia-nya dengan khidmat.
Aku sendiri juga sedang menyelidiki sesuatu. Kenyo tidak pernah masuk pada hari Kamis, dan aku tahu itu karena aku sudah menghitung.
Setelah malam dengan pensil 2B itu, aku mulai mencatat. Aku mencatatnya di halaman paling belakang buku agenda dinas bersampul hijau tua milikku, di bawah logo Korpri yang sudah kutempeli stiker, dengan tulisan yang sengaja kubuat kecil supaya Agus tidak bisa membacanya dari bangku sebelah.
Kenyo tidak masuk pada hari Kamis di minggu Ibu sakit. Kenyo tidak masuk pada Kamis berikutnya, dan Kamis berikutnya lagi, dan Kamis pertama Ramadan, dan Kamis kedua. Setiap Rabu malam, telepon kami selesai lebih awal, dan suaranya turun setengah nada lebih cepat. Besok aku nggak bisa telepon, ya. Setiap Kamis pagi, Agus menerima SMS yang sama: Gus, bilang Alan malam ini jangan telepon. Makasih. Dan setiap Jumat, Kenyo naik angkot D dengan wajah yang tampak lebih lelah dari biasanya, memutar jam tangannya ke dalam sebelum duduk, dan mengajukan pertanyaan anehnya dengan suara yang sedikit terlalu ceria.
Aku bertanya kepada Ana satu kali, di tenda Pak Kumis, ketika Kenyo sedang mencuci tangan.
"Kenyo kenapa nggak pernah masuk hari Kamis?"
Ana sedang menuang sambal. Tangannya berhenti di udara.
"Urusan keluarga," katanya. Lalu, untuk pertama kalinya selama aku mengenalnya, Ana Rosandi menuang sambal tanpa menumpahkannya sedikit pun. Dia terlalu berhati-hati. Orang yang sedang berbohong selalu terlalu berhati-hati dengan tangannya.
Malam itu aku menulis daftar di halaman paling belakang buku agendaku.
Kamis. W. Jam 7. Sedan perak di Masjid Tanisari. Jam tangan yang piringannya menghadap ke dalam. "Kalau yang angkat suara laki-laki, tutup." "Pandean jauh."
Aku memandangi daftar itu sampai lewat tengah malam. W. Aku bahkan sempat menulis Wiryo? di sebelahnya, karena Kenyo pernah berteori bahwa Pak Wiryo adalah mantan agen rahasia, lalu aku mencoretnya dengan dua garis dan merasa bodoh selama sepuluh menit. Holmes punya Baker Street, biola, dan seorang Watson. Aku punya lampu sepuluh watt, buku agenda dinas bekas, dan tidak ada siapa-siapa yang bisa kuajak bicara tentang ini, karena satu-satunya orang yang ingin kuajak bicara adalah orang yang sedang kuselidiki.
Pada hari Jumat terakhir sebelum Lebaran, Agus datang ke Gading Putih tanpa membawa teori apa pun.
Aku langsung tahu ada yang salah. Selama Ramadan, Agus membicarakan makanan rata-rata setiap tiga menit, seperti argo wartel. Hari itu dia tidak membicarakan makanan sama sekali. Dia duduk di bangku sebelahku dan memandangi papan tulis yang kosong selama hampir satu menit.
"Lan," katanya akhirnya. "Semalam aku ikut Papa buka bersama. Asosiasi toko bangunan. Di Grand Banyuwening."
Hotel Grand Banyuwening adalah satu-satunya hotel berbintang empat di kota kami, dengan ballroom berlampu kristal yang hanya pernah kulihat di televisi, ketika berita lokal menyiarkan pernikahan anak pejabat.
"Terus?"
"Ballroom-nya dibagi dua. Separuh buat asosiasinya Papa. Separuh lagi dipesan satu keluarga, meja bundar, ada pembatasnya." Agus memutar-mutar tutup pulpennya. "Aku ke toilet lewat belakang pembatas itu."
Aku menunggu. Di bawah jendela kelas, Mbah Seno sedang menyapu halaman, dan bunyi sapu lidinya terdengar sangat jelas.
"Aku lihat Kenyo, Lan."
"Kenyo?"
"Pakai kebaya. Warnanya krem. Duduk di antara papa dan mamanya. Di meja yang sama ada satu keluarga lagi. Bapaknya pakai batik sutra, ada dua orang yang berdiri di belakang kursinya kayak pengawal." Agus berhenti memutar tutup pulpennya. "Aku berdiri di situ lama, Lan. Pura-pura nyari toilet. Hampir sepuluh menit."
"Terus?"
"Dia nggak senyum." Suara Agus pelan sekali, pelan dengan cara yang belum pernah kudengar dari dia. "Sekali pun nggak. Dia duduk tegak kayak murid yang lagi dimarahin guru, dan dia nggak senyum sama sekali."
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Agus memandangku, lalu menunduk ke mejanya, seperti orang yang masih menyimpan satu hal lagi dan tidak yakin apakah dia boleh mengatakannya.
"Satu lagi," katanya. "Jam tangannya."
"Kenapa jam tangannya?"
"Menghadap ke luar."