← Lintasan Yang Tak Pernah Selesai

Bab 5: Catatan Fotokopian

Di rumah kami ada beberapa hukum yang tidak pernah ditulis, tetapi semua orang mematuhinya. Piala Mbah Kung di atas lemari tidak boleh disentuh. Teh tubruk Mbah Uti tidak boleh diberi gula lebih dari satu sendok. Bapak tidak boleh diajak bicara sebelum dia selesai membaca koran kemarin yang dia bawa pulang dari kantor kecamatan.

Dan Ibu tidak pernah sakit.

Hukum yang terakhir itu begitu tua sehingga aku tidak pernah memeriksanya, seperti orang tidak pernah memeriksa apakah matahari benar-benar terbit dari timur. Aku memperhatikan segalanya tentang Isti Kenyo: arah jam tangannya, tekanan pulpennya, halaman novel yang tidak berganti selama dua halte. Namun, selama tiga bulan, aku tidak memperhatikan ibuku sendiri.

Padahal petunjuknya ada di mana-mana. Sejak awal Oktober, Ibu mulai mengikat kepalanya dengan selendang setiap sore, katanya supaya rambutnya tidak bau asap petromaks. Dia mulai minum jahe merahnya sendiri, segelas sebelum mendorong gerobak dan segelas lagi sesudahnya, padahal sebelumnya dia selalu berkata bahwa penjual jamu yang meminum dagangannya sendiri tidak akan pernah kaya. Dia mulai menutup gerobak pukul delapan, bukan pukul sembilan. Angka-angka di buku pembukuan rumah yang kupegang setiap malam turun sedikit demi sedikit, dan aku menuliskannya satu per satu dengan rapi tanpa pernah bertanya kenapa.

Holmes akan malu padaku. Aku sendiri malu, bahkan sampai sekarang.


Hari Selasa itu, gerimis pertama musim hujan turun pukul lima sore, dan pukul enam lewat sepuluh, sebuah gelas jatuh.

Aku sedang mencuci gelas-gelas kotor di ember di samping gerobak ketika mendengar bunyinya: bunyi kaca tipis yang pecah di atas batu, kecil dan tajam. Ketika aku menoleh, Ibu sudah duduk di bangku kayu yang biasanya untuk pembeli, satu tangannya mencengkeram tiang petromaks, dan wajahnya di bawah cahaya lampu itu berwarna seperti lilin.

"Nggak apa-apa," katanya, sebelum aku sempat bertanya. "Licin."

Bangku itu kering. Aspal di bawahnya hanya basah sedikit.

Pak Darto, tukang ojek yang setiap sore memesan beras kencur dengan telur, yang pertama berdiri. Dia dan aku memapah Ibu pulang melewati gang tanah merah yang mulai becek, sementara Susan berlari di depan kami untuk membuka pintu dan berteriak memanggil Mbah Uti. Tubuh Ibu panas sekali. Aku bisa merasakan panasnya menembus kain kebayanya, seperti memegang panci yang baru diangkat dari kompor.

Gerobak JAMU BU IMAH tertinggal di mulut gang, dengan petromaks yang masih menyala dan botol-botol kaca yang berdenting setiap kali angin lewat. Aku kembali untuk mengambilnya setengah jam kemudian. Seseorang sudah memunguti pecahan gelas itu dan menaruhnya di atas selembar koran, di samping uang dua ribu rupiah yang diselipkan di bawah tutup botol. Sampai sekarang aku tidak tahu siapa.

Keesokan paginya, mantri di puskesmas Pandean mengambil darah Ibu, dan siangnya hasilnya keluar. Tifus. Ibu harus berbaring dua minggu, makan bubur, dan, kata mantri itu sambil menatap Ibu dari balik kacamatanya, tidak bekerja sama sekali, Bu, sama sekali.

Kalimat pertama yang Ibu ucapkan setelah keluar dari ruang periksa adalah, "Gerobaknya gimana?"


Malam itu aku membuka buku pembukuan rumah dan menghitung ulang semuanya dari bulan Juli.

Cicilan Gading Putih: dua ratus ribu rupiah sebulan. Laba bersih gerobak jamu, setelah dikurangi beras kencur, kunyit, gula aren, minyak tanah, dan gelas yang pecah: dua ratus sepuluh ribu rupiah sebulan.

Aku memandangi kedua angka itu lama sekali di bawah lampu sepuluh watt. Selisihnya sepuluh ribu rupiah. Itu berarti Ibu berdiri di mulut gang dari asar sampai pukul sembilan malam, setiap hari, selama tiga bulan, hanya untuk satu hal: supaya aku bisa duduk di barisan tengah kelas IPA-1 dan mendengarkan Pak Wiryo menyebut namaku dengan salah.

Bimbelku yang membuat Ibu sakit. Tidak ada cara lain untuk menjumlahkannya.

Selepas isya, aku menunggu Bapak di serambi Masjid Al-Ikhlas sampai jamaah terakhir pulang. Bapak keluar paling akhir seperti biasa, mematikan lampu, mengunci pintu dengan gembok yang kuncinya dia simpan di saku baju koko. Dia duduk di sebelahku di tangga serambi tanpa bertanya apa-apa, karena Bapak memang jarang bertanya.

"Aku berhenti les, Pak."

Bapak tidak menjawab. Dia memasang sandalnya pelan-pelan, satu, lalu yang satu lagi.

"Kamu absen," katanya akhirnya. "Bukan berhenti. Itu beda, Lan."

"Ibu sakit karena aku."

"Ibumu sakit karena dia ibumu." Bapak memandang ke halaman masjid yang gelap, ke pohon sawo yang ditanam Mbah Kung sebelum aku lahir. "Kalau kamu berhenti, ibumu sembuhnya lebih lama. Orang sakit itu sembuhnya bukan cuma pakai obat. Pakai harapan juga."

Malam itu kami membuat pembagian tugas, seperti dua orang pegawai negeri yang membagi pekerjaan di kantor. Bapak pulang dari kantor kecamatan pukul empat. Aku pulang dari sekolah pukul dua. Jadi aku yang mendorong gerobak ke mulut gang selepas asar, dan Bapak yang menggantikanku pukul empat. Mbah Uti yang menjaga Ibu. Susan, yang tidak pernah dimasukkan ke dalam pembagian tugas mana pun, memasukkan dirinya sendiri.

Dan aku tidak akan masuk Gading Putih selama seminggu.


Seminggu itu mengajariku banyak hal tentang jamu, dan lebih banyak lagi tentang adikku.

Aku tahu takarannya, karena aku sudah tiga bulan mencuci gelasnya. Namun, mengetahui takaran tidak sama dengan menjual. Pada sore pertama, aku berdiri di belakang gerobak seperti penjaga gardu, menunggu pembeli datang sendiri, dan hanya sebelas gelas yang terjual sampai pukul enam.

Pada sore kedua, Susan pulang sekolah, berganti baju, dan berdiri di sebelahku.

"Mas, jamu itu yang dijual bukan jamunya," katanya, seperti seorang dosen yang menjelaskan hal paling dasar kepada mahasiswa yang lamban. "Ceritanya."

Lalu dia menjual cerita. Dia bertanya kepada Pak Darto apakah pinggangnya masih sakit sejak motornya jatuh di dekat pasar. Dia ingat nama cucu Bu Warsini yang baru lahir. Dia memberi tahu seorang ibu muda bahwa kunyit asam bagus untuk kulit, dan memberi tahu seorang bapak tua bahwa beras kencur bagus untuk suara, dan aku curiga tidak satu pun dari keduanya pernah dia baca di mana pun. Pukul enam sore itu, tiga puluh dua gelas terjual.

"Strategi," kata Susan, sambil menghitung uang di kaleng dengan gaya bandar.

Setiap magrib, Bapak menyerahkan gerobak kepadaku dan berjalan ke masjid, karena dia imamnya dan jamaah tidak bisa menunggu. Aku menjaga gerobak sendirian di bawah lampu petromaks, mendengarkan azan dari Masjid Al-Ikhlas, lalu suara Bapak membaca Al-Fatihah lewat pengeras suara yang bunyinya sedikit pecah. Setelah Bapak kembali, aku berlari ke masjid dan salat magrib sendirian di saf paling depan yang sudah kosong, dengan karpet yang masih hangat oleh lutut orang-orang yang sudah pulang.

Itu pertama kalinya aku salat magrib tanpa berjamaah karena urusan dunia. Rasanya seperti datang terlambat ke sebuah acara yang diadakan untukmu.

Malam-malam itu aku tidak pergi ke wartel. Gerobak tutup pukul sembilan, dan setelah itu masih ada gelas untuk dicuci, botol untuk diisi ulang, dan bubur untuk Ibu yang harus disuapkan pelan-pelan, karena Ibu tidak mau disuapi Mbah Uti ( "Ibuku sendiri, nanti dikira aku anak kecil" ) dan juga tidak mau disuapi Bapak ( "Bapakmu nyuapinnya kayak ngisi bensin" ). Jadi aku yang menyuapi Ibu. Ibu tidak memprotes. Ibu hanya memandangiku sambil mengunyah, dengan mata yang sedikit basah karena demam, atau karena hal lain yang tidak kutanyakan.

Dari kamar sebelah, setiap malam, aku mendengar Mbah Uti membaca Surah Yasin dengan suaranya yang tipis dan bergetar, berhenti setiap beberapa ayat untuk batuk, lalu melanjutkan dari ayat yang sama.

Pada hari kedua, Agus datang ke sekolah dengan HP yang baru diisi pulsa dan wajah seorang pegawai pos yang menebus kesalahan masa lalu.

"Udah aku SMS," katanya, bahkan sebelum duduk. "Kemarin malam. Dia langsung bales." Dia mengangkat Nokia-nya dan membacakannya dengan suara yang, untuk sekali itu, tidak dibuat-buat. "Bilang Alan, nggak usah mikirin les. Mikirin Ibu aja. Yang lain biar aku yang urus."

"Yang lain apa?"

Agus mengangkat bahu. "Teori Agus nomor sembilan belas: kalau cewek bilang 'biar aku yang urus', jangan tanya. Tunggu aja."


Pada hari keempat, menjelang magrib, Ana datang.

Aku melihatnya turun dari angkot D di mulut Jalan Garuda, memeluk sebuah amplop cokelat besar di dadanya, dan berjalan memasuki gang tanah merah yang sudah dua hari diguyur gerimis. Dia berjalan sangat hati-hati, dengan langkah-langkah kecil seperti orang menyeberangi sungai di atas batu.

Dia jatuh di langkah kesembilan.

Namun, dia jatuh dengan cara yang tidak akan pernah kulupakan. Ketika kakinya tergelincir, dia tidak menahan tubuhnya dengan tangan. Dia mengangkat amplop cokelat itu tinggi-tinggi di atas kepalanya, dengan dua tangan, seperti orang yang menyelamatkan bayi dari banjir, dan membiarkan tubuhnya sendiri jatuh terduduk di lumpur merah.

Ketika aku sampai di dekatnya, rok abu-abunya sudah berwarna seperti bata. Amplop itu masih kering sempurna.

"Kata Kenyo jangan sampai basah," katanya, dengan senyum yang setengah meringis, setengah bangga.

Aku membantunya berdiri. Susan, yang menyaksikan semuanya dari gerobak, sudah berlari membawa lap dan ember air. Ana membersihkan roknya sebisanya di samping gerobak, lalu, karena sudah terlanjur datang, memesan segelas kunyit asam.

Aku menuangkannya. Dia menyodorkan uang lima ratus rupiah.

"Nggak usah, Na."

"Kalau nggak mau dibayar, aku nggak minum."

Aku menerima uangnya. Ana minum kunyit asam itu pelan-pelan, sambil memandangiku mengaduk gula aren di panci kecil, lebih lama dari yang diperlukan untuk menghabiskan segelas jamu. Aku tidak memikirkannya waktu itu. Aku baru memikirkannya berbulan-bulan kemudian, di bawah pohon flamboyan, ketika semuanya sudah terlambat untuk dipikirkan dengan cara lain.

Lalu dia menyerahkan amplop cokelat itu kepadaku.

"Dari Kenyo," katanya. "Katanya jangan dibayar. Katanya kamu pasti mau bayar, jadi dia udah bayar duluan, ke Mas Yono langsung."

Aku memegang amplop itu dan tiba-tiba teringat suara Kenyo di bilik nomor dua seminggu sebelumnya. Cuma bisa diubah bentuknya. Itu yang lagi aku pikirin.

"Kenyo sebenarnya pengen nganter sendiri," kata Ana. Lalu dia berhenti, seperti orang yang menyadari bahwa dia sudah berjalan satu langkah terlalu jauh.

"Terus kenapa nggak?"

Ana memandang ke ujung gang, ke arah jalan raya, ke arah angkot D yang akan membawanya kembali ke Tanisari.

"Pandean jauh," katanya.

Pandean tidak jauh. Pandean ada di rute angkot yang sama yang dia dan Kenyo naiki setiap hari. Aku tahu itu, dan Ana tahu bahwa aku tahu, dan selama beberapa detik kami berdua berdiri di samping gerobak jamu tanpa berkata apa-apa, sementara azan magrib mulai terdengar dari Masjid Al-Ikhlas.

Sebelum pulang, Ana minta izin menemui Ibu. Dia masuk ke kamar Ibu dengan rok yang masih bernoda tanah merah, mencium tangan Ibu, dan duduk di tepi kasur selama lima menit, bercerita tentang kucing-kucing di Pasar Tanisari. Ibu tertawa untuk pertama kalinya dalam empat hari.

"Temanmu yang jatuh tadi anak baik," kata Ibu malam itu, ketika aku menyuapkan sendok bubur terakhir.

"Yang mana, Bu?" sahut Susan dari pintu. "Yang jatuh, atau yang nitip?"


Malam itu, setelah gerobak dibersihkan dan Ibu tertidur, aku membuka amplop cokelat itu di bawah lampu sepuluh watt.

Isinya lima bundel fotokopian, masing-masing distaples di pojok kiri atas, masing-masing diberi tanggal dengan pulpen merah: Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat. Di atas semuanya ada selembar kertas yang bukan fotokopian. Itu halaman asli yang disobek dengan rapi dari buku catatan bersampul cokelat yang kukenal, dan di atasnya, dengan tulisan yang rapi seperti cetakan:

Untuk Alan. Senin sampai Jumat. Yang Kamis aku nggak masuk, jadi itu catatan Ana. Maaf tulisannya. (Ana yang nyuruh aku nulis"maaf tulisannya".) Cepat sembuh buat Ibu.

Aku membaca bundel hari Kamis lebih dulu, karena aku penasaran. Tulisan Ana besar dan bulat, dengan wajah tersenyum kecil di setiap judul dan gambar seekor kucing di pinggir halaman tiga. Di beberapa tempat, ada koreksi dengan tinta merah dalam tulisan yang lain: Bukan 9,8 di sini, tapi 10. Pak Wiryo bilang dibulatkan. (K)

Kenyo tidak masuk hari Kamis. Aku mencatat itu di kepalaku, di tumpukan yang setiap minggu bertambah tinggi, lalu membaca bundel-bundel yang lain.

Catatan-catatan itu berbeda dari buku cokelat yang kubawa pulang dua bulan sebelumnya. Bukan tulisannya: tulisannya tetap tinta biru untuk penjelasan, tinta hitam untuk rumus, dan kotak merah berbintang untuk hal yang pasti keluar di SPMB. Yang berbeda adalah pinggirnya. Di pinggir halaman-halaman itu, ada catatan-catatan yang tidak mungkin ditulis untuk dirinya sendiri.

Bagian ini Pak Wiryo jelasinnya cepat banget. Aku tulis ulang pelan-pelan di bawah.

Ini mirip soal yang kamu jelasin di angkot minggu lalu. Kamu pasti bisa.

Alan bilang: gambar dulu, baru hitung. (Aku sekarang selalu gambar dulu.)

Dia menulis untukku. Dia duduk di barisan depan kelas IPA-1, mendengarkan Pak Wiryo, dan menulis dua kali: sekali untuk dirinya sendiri, sekali lagi, lebih pelan, untuk seseorang yang sedang mendorong gerobak jamu di mulut gang di Pandean.

Lalu, di bundel hari Jumat, di halaman terakhir, di pojok kanan bawah, di bawah sebuah soal tentang tumbukan lenting sempurna, aku menemukannya.

Alan…

Hanya itu. Namaku, lalu tiga titik, lalu kertas putih sampai ke tepi halaman.

Aku memandanginya lama sekali. Aku mencoba menjadi Holmes, dan seperti biasa, yang berhasil kulakukan hanyalah menjadi Watson. Mungkin dia ingin menulis Alan bilang dan terganggu sebelum sempat menyelesaikannya. Mungkin Pak Wiryo memanggilnya ke papan tulis. Mungkin pulpennya habis.

Namun, aku memeriksa ketiga titik itu dengan lebih teliti, dan pulpennya tidak habis. Dua titik pertama kecil dan bulat sempurna, seperti titik di atas huruf i di halaman-halaman Fisika. Titik yang ketiga lebih besar. Tintanya melebar sedikit ke serat kertas, membentuk noda kecil yang tepinya tidak rata.

Pena yang berhenti lama di satu titik meninggalkan tinta yang melebar. Itu bukan deduksi Holmes. Itu fisika sederhana, dan aku memahaminya lebih baik daripada apa pun yang pernah diajarkan Pak Wiryo: seseorang telah menahan ujung pulpennya di kertas itu cukup lama, memikirkan kalimat berikutnya, lalu memutuskan untuk tidak menuliskannya.

Aku tidak pernah menanyakannya. Tidak malam itu, tidak minggu itu, tidak pada bulan-bulan setelahnya. Aku selalu tahu apa yang ingin kukatakan. Masalahku sejak dulu adalah aku hampir tidak pernah mengatakannya.


Ibu bangun dari kasurnya pada hari Minggu, dengan kaki yang masih goyah dan keras kepala yang sudah pulih sepenuhnya, dan menyatakan bahwa dia sudah sembuh. Mantri berkata dua minggu. Ibu berkata satu minggu cukup, karena dia yang punya badan. Akhirnya mereka sepakat: Ibu boleh duduk di bangku di samping gerobak dan memberi perintah, tetapi tidak boleh mengangkat apa pun, dan Susan yang menjual cerita.

Hari Senin aku kembali ke Gading Putih. Sebelum masuk gerbang, aku menyeberang ke Fotokopi Jilid Kilat dengan uang lima ribu rupiah di saku kanan, uang yang kusisihkan dari gorengan selama seminggu.

Mas Yono mengecilkan radio dangdutnya ketika melihatku.

"Fotokopian minggu lalu, Mas," kataku. "Yang dibawa Mbak berkerudung abu-abu. Saya mau bayar."

"Udah dibayar, Mas." Mas Yono memandangku dengan alis terangkat, seperti heran ada orang yang mau membayar sesuatu yang sudah dibayar. "Sama Mbaknya. Dia fotokopi dua rangkap tiap kamu nggak masuk."

"Dua?"

"Satu buat Mas. Satunya lagi dia bawa pulang." Mas Yono membesarkan lagi radionya. "Saya nggak nanya."


Di angkot D sore itu, Kenyo naik seperti biasa, membayar Pak Kirno, menolak kembalian, dan duduk di sebelahku. Aku menunggu sampai lampu merah pertama, lalu mengeluarkan uang lima ribu itu dari saku kanan.

Dia memandang uang itu, lalu memandangku, dengan ekspresi seorang hakim yang sudah membaca berkas perkara sebelum sidang dimulai.

"Anggap aja bayaran les privat," katanya. "Tiap malam kamu ngajarin aku fisika di telepon, dan aku belum pernah bayar sepeser pun."

"Itu beda."

"Bedanya di mana?"

Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi, karena aku tidak menemukan bedanya.

"Kenapa dua rangkap?" tanyaku akhirnya.

"Satu buat kamu. Satu cadangan."

"Cadangan buat apa?"

Dia membuka novelnya, dan kali ini dia benar-benar membacanya, karena aku melihat halamannya berganti.

"Kalau yang satu kehujanan," katanya.

Uang lima ribu itu kembali ke saku kananku. Malam itu aku menyadari bahwa dia sudah mengalahkanku dengan hukum yang kuberikan sendiri kepadanya. Uangnya tidak diciptakan dan tidak dimusnahkan. Uangnya hanya diubah bentuknya, menjadi lima bundel fotokopian dan satu lembar kertas yang bertuliskan Untuk Alan.


Malam itu, setelah pukul sembilan, setelah Kenyo berkata "besok lagi, ya" dengan suara yang turun setengah nada, aku membawa lembar Untuk Alan itu ke meja belajarku untuk kesepuluh kalinya.

Kali ini aku memegangnya miring di bawah lampu sepuluh watt, karena aku ingin melihat bekas tekanan pulpennya, dan pada saat itulah aku melihat sesuatu yang lain.

Di bagian bawah halaman itu, di ruang kosong di bawah Cepat sembuh buat Ibu, ada lekukan-lekukan halus di permukaan kertas. Bekas tulisan. Bukan tulisan di halaman ini, melainkan tulisan di halaman yang dulu berada di atasnya, sebelum halaman itu disobek, yang ditulis dengan tekanan begitu keras sampai membekas menembus kertas.

Kenyo sendiri yang pernah mengajariku caranya, di bilik nomor dua, pada salah satu malam ketika dia bercerita tentang detektif-detektif yang bukan Holmes. Kalau mau baca tulisan yang halamannya udah disobek, arsir halaman di bawahnya pakai pensil. Pelan-pelan, miring, jangan ditekan.

Aku mengambil pensil 2B dari kotak pensilku. Aku mengarsir pelan-pelan, miring, tanpa menekan.

Grafit abu-abu menutupi kertas putih itu, dan di tempat-tempat yang lekukannya dalam, garis-garis putih muncul seperti tulang di bawah sinar rontgen. Huruf-hurufnya rapi seperti cetakan, tetapi ditulis dengan tekanan yang belum pernah kulihat di halaman mana pun di buku cokelatnya. Tiga baris, yang bukan untukku.

Kamis W. jam 7

889296100104108
ON AIR   0:00