← Lintasan Yang Tak Pernah Selesai

Bab 2: Hukum Kekekalan Bangku Angkot

Di rumah kami, hari dimulai pukul tiga pagi dan berakhir pukul sebelas malam. Di antara keduanya ada kira-kira empat jam yang oleh Bapak disebut tidur, dan oleh Ibu disebut "merem sebentar".

Aku tidak pernah butuh weker. Aku punya kompor minyak tanah Ibu. Setiap pukul tiga, dari balik dinding papan yang memisahkan kamarku dari dapur, aku mendengarnya dipompa, cit, cit, cit, cit, lalu terdengar desis panjang ketika korek api didekatkan dan api biru menyala. Setelah itu menyusul bau minyak goreng yang mulai panas, dan di bawahnya, samar-samar, bau jahe dan serai yang masih tertinggal dari rebusan jamu Ibu semalam. Bau rumah kami adalah bau dua dagangan yang saling menumpuk: satu untuk pagi, satu untuk malam. Yang kedua baru berumur tiga minggu.

"Tidur lagi, Lan," kata Ibu setiap kali aku muncul di ambang pintu dapur dengan sarung masih terlilit di bahu. "Nanti sore bimbel."

"Nggak, Bu."

Itu percakapan kami setiap pagi, dan sudah begitu sejak aku kelas lima SD. Ibu tidak pernah benar-benar berharap aku tidur lagi. Aku tidak pernah benar-benar mempertimbangkannya. Kami hanya mengucapkannya seperti orang mengucapkan salam, karena hari belum terasa dimulai sebelum kalimat itu diucapkan.

Dapur kami beratap seng, berlantai semen yang retak di tengahnya seperti peta sungai. Pukul tiga pagi, separuh dapur itu sudah berubah menjadi pabrik kecil: baskom besar berisi adonan bakwan dengan irisan kol dan wortel, tumpukan tempe yang semalam sudah diiris Bapak dengan ketebalan yang sama persis, tahu putih yang direndam air garam, dan sepiring kaleng berisi cabai rawit hijau untuk teman makan. Ibu yang menggoreng. Aku membantu membalik, meniriskan, dan menata gorengan yang sudah matang di tampah beralas daun pisang. Mbah Uti, yang sejak April tidak pernah bisa tidur lewat pukul dua, duduk di dingklik di sudut dapur, mengupas bawang tanpa disuruh dan tanpa bicara.

Minyak panas tidak pernah peduli siapa yang berdiri di dekatnya. Punggung tangan kiriku, tangan yang memegang tampah sementara tangan kanan memegang serok, punya kumpulan bintik kecil kecokelatan, bekas cipratan yang menumpuk selama bertahun-tahun. Ada yang sudah pudar, ada yang masih baru. Agus pernah berkata, kalau titik-titik itu dihubungkan, bentuknya seperti rasi bintang Biduk. Agus tidak tahu satu pun rasi bintang. Dia hanya suka bunyi kata Biduk.

Pukul empat lewat seperempat, sebelum azan subuh, Bapak sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan sarung dan peci, menungguku. Kami berjalan berdua ke Masjid Al-Ikhlas di ujung gang, melewati jemuran yang masih basah oleh embun. Bapak sudah menjadi imam di masjid itu sejak sebelum aku lahir. Dia bukan ustaz dan tidak pernah sekolah agama. Dia hanya orang yang paling rajin datang dan paling fasih bacaannya, sampai suatu hari jamaah memintanya maju ke depan, dan sejak itu dia tidak pernah mundur lagi. Aku salat di saf pertama, tepat di belakangnya. Setiap subuh aku melihat punggung yang sama membungkuk dalam rukuk, dan mendengar suara yang sama membaca ayat-ayat yang sama, dan aku tidak pernah bosan.

Pukul setengah enam, selepas subuh, Bapak keluar dari kamar sudah berseragam: kemeja dinas cokelat yang disetrika Ibu setiap Minggu malam, lencana Korpri di dada, sepatu pantofel yang solnya sudah dua kali dilem ulang. Bapak adalah pegawai golongan dua di bagian arsip Kantor Kecamatan Pandean. Menurut Bapak sendiri, pekerjaannya terdiri dari memindahkan map dari lemari kiri ke lemari kanan, lalu memindahkannya kembali setahun kemudian. Bapak jarang bicara pagi-pagi. Sebelum berangkat, dia mengangkat meja lipat dan tampah-tampah gorengan ke mulut gang, tempat Ibu berjualan sampai pukul sembilan, lalu mengayuh sepeda ontelnya ke kantor.

Pukul enam kurang seperempat, Susan keluar dari kamar dengan seragam putih abu-abu yang masih kaku oleh kanji. Itu seragam baru pertama dalam hidupnya, karena seragam SMP-nya dulu bekas anak tetangga. Dia memeriksa penampilannya di kaca lemari selama waktu yang menurutku tidak masuk akal. Kami berangkat ke sekolah yang sama, naik angkot yang sama, tapi dia selalu turun satu gang lebih jauh supaya teman-teman barunya tidak melihatnya datang bersama kakaknya. Kata Susan, itu bukan karena malu. Kata Susan, itu strategi.

Sorenya, sejak tiga minggu lalu, mulut gang yang sama berganti dagangan. Selepas asar, Ibu mendorong gerobak JAMU BU IMAH ke sana, dengan lampu petromaks tergantung di tiangnya dan botol-botol kaca berisi beras kencur, kunyit asam, dan jahe merah yang berdenting setiap kali roda menginjak lubang. Bapak menyusul sepulang kantor, masih berseragam cokelat, menuangkan jamu untuk tukang ojek dan kuli Pasar Sawung sampai lewat pukul sembilan. Pukul sebelas, setelah gelas-gelas dicuci dan panci-panci direndam, rumah kami akhirnya diam.

Kalau ada yang bertanya bagaimana aku bisa belajar dengan jadwal seperti itu, jawabannya sederhana: aku belajar di sela-sela. Di sela membalik bakwan, aku menghafal rumus dari kertas kecil yang kutempel di dinding dapur dengan nasi. Di sela menunggu jamu habis, aku mengerjakan soal di bangku kayu di samping gerobak, dengan cahaya petromaks. Aku tidak merasa itu sesuatu yang istimewa. Semua anak di gang kami hidup di sela-sela sesuatu.

Rumah papan kami sebenarnya bukan rumah kami. Rumah itu milik Mbah Kung, bapaknya Ibu, dan kami sudah tinggal bersamanya dan Mbah Uti sejak sebelum aku bisa berjalan. Mbah Kung meninggal pada bulan April, tiga minggu sebelum hari pertamaku di Gading Putih. Kursi rotan di teras, tempat ia biasa duduk mengisap rokok klobot setiap magrib, masih ada di sana. Tidak ada yang mendudukinya. Tidak ada juga yang tega memindahkannya. Setiap magrib, Mbah Uti masih menaruh segelas teh tubruk di meja kecil di sampingnya, lalu membuangnya dingin-dingin keesokan paginya.

Ada satu benda milik Mbah Kung yang tidak pernah disentuh siapa pun, bahkan setelah ia tiada. Letaknya di atas lemari kayu di ruang tengah, dibungkus sarung kotak-kotak yang sudah pudar, bentuknya seperti botol yang terlalu gemuk. Waktu umurku sembilan tahun, aku pernah memanjat kursi dan membuka bungkusnya diam-diam. Isinya piala kuningan kecil yang sudah kusam, dengan tulisan di alasnya: Juara I Pencak Silat Tingkat Kabupaten, 1968. Di sampingnya terselip sebuah foto hitam putih: seorang pemuda kurus bertelanjang dada dengan ikat kepala di dahi, menatap kamera dengan mata yang membuatku ingin mundur selangkah.

Aku butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa itu Mbah Kung.

Mbah Kung memergokiku di atas kursi sebelum aku sempat membungkusnya lagi. Ia tidak marah. Ia mengambil piala itu dari tanganku, membungkusnya kembali dengan rapi, dan meletakkannya di tempat semula. Ketika aku bertanya, ia hanya berkata, "Itu punya orang lain, Lan. Dulu."

Padahal sejak aku bisa berdiri tegak, Mbah Kung sudah mengajariku silat. Setiap Minggu selepas subuh, di halaman belakang yang becek, tubuhnya yang sudah bungkuk tiba-tiba menjadi lurus, dan tangannya yang gemetar saat memegang gelas teh tiba-tiba menjadi tenang. Namun, ia tidak pernah mengajariku memukul. Bertahun-tahun, yang ia ulang-ulang hanya satu hal, yaitu cara jatuh: bagaimana menggulingkan badan supaya kepala tidak membentur tanah, bagaimana menggeser kaki supaya pukulan lewat di samping dan tidak mendarat di dada, dan bagaimana menangkap pergelangan tangan orang lalu melepaskannya kembali.

"Orang yang bisa jatuh dengan benar," kata Mbah Kung, "nggak perlu belajar mukul."

Waktu itu aku menganggapnya nasihat. Butuh waktu lama sebelum aku mengerti bahwa itu sebenarnya sebuah pengakuan.

Minggu pagi pertama setelah pemakamannya, aku tetap bangun selepas subuh dan berdiri di halaman belakang. Aku melakukan semua gerakan jatuh itu sendirian, satu per satu, sampai kaus dalamku belepotan lumpur. Ibu melihatku dari pintu dapur. Ia tidak menyuruhku berhenti.


Dalam tiga minggu pertama program kelas tiga, aku menemukan bahwa angkot D yang lewat di depan Gang Kembangan setelah pukul lima sore bukan satu angkot, melainkan lima, dan masing-masing punya kepribadian.

Ada D yang dikemudikan Pak Kirno, laki-laki gemuk berkumis yang menempelkan stiker DOA IBU di kaca depan dan JANGAN LUPA BAYAR di langit-langit, tepat di atas kepala penumpang, sehingga siapa pun yang mendongak karena bosan langsung diingatkan akan kewajibannya. Ada D yang tapenya hanya memutar satu album Evie Tamala, berulang-ulang, sampai aku hafal urutan lagunya. Ada D yang pintunya meluncur sendiri di jalan miring. Ada D yang jok belakangnya robek sampai busanya mencuat. Ada pula D yang kernetnya anak SMP yang bolos sekolah, yang berteriak "Tanisari-Pandean!" dengan suara yang belum selesai pecah.

Ongkosnya tujuh ratus rupiah untuk pelajar, seribu untuk umum. Aku selalu membayar dengan receh yang sudah kupisahkan di saku kanan celana: satu koin lima ratus, dua koin seratus. Uang itu dari laci kaleng Ibu, hasil gorengan pagi itu. Setiap kali koin-koin itu berpindah ke tangan kernet, aku tahu persis berapa bakwan yang harus terjual untuk menggantinya: tiga setengah.

Di setiap D, tanpa kecuali, aku duduk di tempat yang sama: bangku panjang sisi kiri, dekat jendela kedua.

Aku punya alasan ilmiah untuk itu, dan sudah kusiapkan kalau ada yang bertanya. Kursi dekat jendela pertama terlalu dekat dengan pintu, jadi selalu kena tempias dan senggolan penumpang yang naik. Kursi dekat jendela ketiga persis di atas roda belakang, sehingga setiap lubang di jalan terasa sampai ke tulang belakang. Jendela kedua adalah titik keseimbangannya: cukup jauh dari pintu, cukup jauh dari roda, dan kacanya satu-satunya yang bisa ditutup rapat saat hujan.

Tidak ada yang bertanya, kecuali Agus.

"Kamu naik D yang jam lima lewat seperempat," katanya suatu siang di kantin sekolah sambil membuka bungkus nasi kucing ketiganya. "Tiap hari."

"Terus?"

"Kelas selesai jam lima kurang sepuluh. D lewat tiap tujuh menit. Harusnya kamu udah di angkot jam lima kurang lima. Tapi kamu nunggu dua puluh menit di halte." Dia mengunyah dengan penuh kemenangan. "Kenapa?"

"Kamu ngitung?"

"Aku punya banyak waktu di dalam Kijang, Lan. Pak Darmin nyetirnya kayak bawa kue tart." Dia menunjukku dengan sendok. "Kenyo keluar kelas jam lima lewat sepuluh. Dia bantu Bu Tutik beresin lembar absen. Terus jalan ke halte bareng Ana."

Aku tidak menjawab.

"Teori Agus nomor dua belas," katanya, dengan nada profesor yang sedang membacakan dalil. "Hukum Kekekalan Bangku Angkot. Kursi di sebelah orang yang kamu tungguin tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Hanya dapat dipertahankan."

"Hukum kekekalan nggak kerja kayak gitu."

"Tapi kamu nggak bilang itu salah."

Aku mengambil satu nasi kucingnya sebagai hukuman. Dia tidak protes. Dia hanya tersenyum seperti orang yang baru memenangkan sesuatu, dan sepanjang sisa minggu itu, setiap kali aku keluar kelas, dia menepuk bahuku dan berbisik, "Pertahankan bangkunya, Prajurit."


Kenyo selalu naik beberapa menit setelahku. Kadang sambil menyeka gerimis dari ujung kerudungnya dengan punggung tangan, kadang sambil masih membaca novel pinjaman dari Perpustakaan Daerah. Setelah Anjing Keluarga Baskerville, novel itu berganti menjadi kumpulan cerita Holmes yang lain, lalu satu demi satu novel Agatha Christie yang sampulnya sudah ditambal selotip. Dia akan menyapa Pak Kirno, membayar dengan selembar seribuan dan menolak kembalian ( "Buat Bapak aja, beli kumis baru," katanya, dan Pak Kirno tertawa sampai angkotnya oleng), lalu duduk di sebelahku.

Tidak pernah ada yang mengaturnya. Tidak ada yang bilang, "Besok duduk di sini lagi, ya." Kursi di sebelahku selalu kosong saat dia naik, dan dia selalu duduk di sana. Kalau aku jujur, dan aku sudah berjanji untuk jujur dalam tulisan ini, aku tidak sepenuhnya pasif dalam urusan itu. Ada sore-sore ketika seorang bapak bertas kerja atau seorang ibu dengan karung beras mendekati kursi itu, dan aku tiba-tiba merasa perlu meletakkan tasku di sana, lalu memindahkannya lagi ketika Kenyo muncul di pintu. Aku tidak bangga akan hal itu. Namun, aku juga tidak menyesalinya.

Soal Hukum Kekekalan Bangku Angkot, Agus benar, dan sampai hari ini aku belum pernah mengakuinya kepadanya.

Kami bicara tentang banyak hal. Tentang buku: dia tidak percaya aku belum pernah membaca satu pun cerita Holmes, dan aku tidak percaya dia menghabiskan satu novel setiap tiga hari padahal namanya ada di peringkat tiga papan neraka. Tentang sekolah: di SMA Insan Mulia, tempat dia dan Ana bersekolah, siswi yang ketahuan membawa HP ke kelas harus menyerahkannya kepada wali kelas sampai akhir semester, dan menurut Kenyo, laci meja wali kelasnya sekarang berisi lebih banyak Nokia daripada konter HP di Pasar Sawung. Tentang Pak Wiryo dan noda tintanya, yang menurut teori Kenyo sudah ada sejak 1990 dan sekarang sudah punya hak pilih di pemilu.

Dia juga bercerita tentang ROHIS, kegiatan kerohanian Islam di sekolahnya. Setiap minggu dia ikut kajian, dan setiap Jumat siang, selagi anak laki-laki salat Jumat, dia ikut membimbing keputrian untuk adik-adik kelas. Itu sebabnya setiap Jumat dia selalu naik angkot sedikit lebih sore, dengan kerudung yang masih sangat rapi dan sebuah buku tipis di tangannya yang bukan novel detektif.

Kami juga bicara tentang pertanyaan-pertanyaan aneh. Itu kebiasaan Kenyo yang paling kusukai sekaligus paling kutakuti: setiap perjalanan, dia akan mengajukan satu pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan apa pun.

"Kalau gravitasi tiba-tiba jadi setengah," tanyanya suatu sore, "apa yang pertama kali kamu lakukan?"

Aku berpikir. "Lompat dari atap rumah."

"Atap rumahmu tinggi?"

"Dua meter. Makanya harus nunggu gravitasi setengah."

Dia tertawa sampai ibu di depan kami menoleh.

"Kalau kamu harus jadi satu benda di angkot ini, kamu jadi apa?"

"Wiper."

"Kenapa?"

"Kerjanya cuma pas hujan. Sisanya diem."

"Itu sedih banget, Alan."

"Itu efisien."

Lalu, di sore yang lain, ketika langit di atas Jalan Cakrawala berwarna jingga kusam dan angkot terjebak macet di depan pasar, dia bertanya sesuatu yang membuatku diam lebih lama dari biasanya.

"Kalau kamu bisa balik ke satu hari di masa lalu," katanya, "satu hari aja, hari apa?"

Aku memikirkannya dengan sungguh-sungguh, karena aku selalu memikirkan pertanyaan Kenyo dengan sungguh-sungguh, seaneh apa pun pertanyaannya.

"Nggak ada," kataku akhirnya.

"Masa nggak ada?"

"Kalau aku balik ke masa lalu dan ngubah sesuatu, sekecil apa pun, hari ini bisa jadi nggak kejadian." Aku menatap kemacetan di luar. "Bisa aja aku nggak daftar Gading Putih. Bisa aja aku nggak lewat gang itu. Aku nggak mau ambil risiko itu."

Kenyo tidak langsung menjawab. Ketika aku menoleh, dia sedang menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya, seperti seseorang yang baru menemukan satu halaman di buku yang tidak dia sangka ada.

Aku ingat jawaban itu dengan sangat jelas. Aku ingat karena setelahnya aku menghabiskan empat belas tahun untuk berubah pikiran.

"Kamu sendiri?" tanyaku, terlalu cepat, karena tatapannya membuat tengkukku panas.

"Aku juga nggak ada." Dia kembali menatap ke luar jendela. "Tapi alasanku beda."

"Apa?"

"Aku nggak pengen mundur. Aku pengen maju." Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh bunyi klakson. "Ada hari di depan yang pengen aku lewatin cepat-cepat. Biar semuanya selesai."

"Hari apa?"

Dia tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. "Pertanyaanku cuma satu per perjalanan, Alan. Itu aturannya."

Macet terurai. Angkot bergerak. Aku tidak bertanya lagi. Namun, sore itu, untuk pertama kalinya, aku memperhatikan bahwa Kenyo memutar jam tangannya sehingga piringannya menghadap ke dalam, ke arah nadinya. Dia selalu melakukannya setiap kali angkot mendekati Tanisari.


Ana tidak selalu ikut. Dia naik D tiga atau empat kali seminggu. Sisanya dia dijemput kakaknya dengan motor Astrea yang knalpotnya sudah terdengar dari ujung Jalan Cakrawala. Namun, setiap kali dia ikut, perjalanan jadi sedikit lebih ramai, dalam arti yang harfiah.

Ana Rosandi adalah tetangga Kenyo sejak TK, satu sekolah dengannya di Insan Mulia, dan satu-satunya orang yang kukenal yang bisa tersandung di permukaan yang benar-benar rata. Dalam tiga minggu aku menyaksikan sendiri dia menjatuhkan pulpen (sembilan kali), menjatuhkan dompet (dua kali, sekali ke celah antara jok dan dinding angkot, sampai aku harus merogoh hingga siku), naik angkot D ke arah sebaliknya (sekali, dan dia baru sadar setelah sampai di terminal), dan menumpahkan es teh plastik ke sepatu seorang bapak yang kemudian, entah bagaimana, malah minta maaf kepadanya. Menurut Kenyo, Ana pernah tercebur ke selokan di depan gerbang sekolah mereka waktu kelas satu, dan sejak itu satpam Insan Mulia selalu berjaga di dekat selokan setiap jam pulang.

Namun, Ana juga orang yang menyisakan setengah rotinya untuk kucing di Pasar Tanisari. Dia selalu membawa dua pulpen karena tahu salah satunya pasti jatuh, dan yang satunya lagi bisa dipinjamkan. Kalau tertawa, dia menutup mulut dengan kedua tangan, seolah sedang menyembunyikan sesuatu yang terlalu besar.

Suatu sore, dompet koin Ana terbuka di pangkuannya ketika angkot mengerem mendadak di lampu merah, dan uang recehnya berhamburan ke lantai, menggelinding ke bawah jok, ke celah pintu, ke sandal ibu penjual sayur. Aku sudah berjongkok sebelum sadar bahwa aku berjongkok. Aku memungutnya satu per satu, menghitungnya tanpa sengaja karena kebiasaan anak penjual gorengan, lalu menyerahkannya kembali.

"Tiga ribu dua ratus," kataku. "Ada satu lima ratusan yang masuk ke celah pintu. Nanti pas turun aku ambilin."

Ana menatap koin-koin di telapak tangannya, lalu menatapku. Wajahnya merah, seperti biasa. Namun, kali ini dia tidak menunduk.

"Makasih, Alan," katanya pelan. "Kamu selalu… ngitungin, ya?"

"Kebiasaan."

Dia tersenyum kecil dan memasukkan koin-koin itu ke dompet satu per satu, sangat hati-hati, seolah setiap koin sekarang punya arti. Aku tidak memperhatikan caranya. Aku sedang memperhatikan hal lain, atau lebih tepatnya, orang lain. Itu kesalahan yang akan kuulangi berkali-kali sepanjang tahun itu.

Di lampu merah berikutnya, seorang anak laki-laki kecil naik ke pintu angkot membawa ukulele yang senarnya tinggal tiga. Dia menyanyikan lagu yang bulan itu diputar di semua radio, dengan lirik yang separuhnya dia karang sendiri. Aku merogoh saku kiri (saku kiri untuk receh sedekah, saku kanan untuk ongkos, aturan yang kubuat sendiri sejak SMP) dan menyelipkan koin dua ratus ke tangannya.

Kenyo memperhatikan. "Kamu selalu kasih, ya?"

"Kalau ada receh."

"Aku suka yang begitu."

"Suka apa?"

"Orang yang diem-diem peduli. Yang kelihatannya biasa aja, tapi selalu tahu harus ngapain waktu dibutuhkan." Dia mengucapkannya dengan nada biasa, seperti sedang mengomentari cuaca, lalu kembali ke novelnya. Ana, di seberang kami, tiba-tiba sangat sibuk membetulkan tali tasnya.

Aku tidak menjawab. Aku menatap jalanan yang mulai jingga di luar jendela dan berusaha keras agar wajahku tidak melakukan apa-apa.


Pada minggu ketiga, Ana tidak masuk bimbel karena demam, dan Kenyo naik D sendirian.

Dia duduk, membayar, menolak kembalian, dan tidak membuka novelnya. Dia memandangiku dengan cara yang membuatku curiga ada butir nasi di wajahku.

"Boleh aku main tebak-tebakan?" tanyanya.

"Pertanyaan per perjalanan cuma satu. Itu aturanmu sendiri."

"Ini bukan pertanyaan. Ini pernyataan." Dia membetulkan kacamatanya dengan telunjuk. "Kamu bangun sebelum subuh setiap hari. Kamu menggoreng sesuatu setiap pagi. Bukan sekali-sekali, tapi setiap hari, bertahun-tahun. Ibumu jualan gorengan. Bapakmu pegawai negeri. Di rumahmu ada yang baru mulai jualan jamu, belum sebulan. Kamu tinggal di gang yang belum diaspal, mungkin di dekat Pasar Sawung. Dan kamu yang pegang uang di rumah."

Aku menatapnya. Angkot berguncang. Aku tidak berkedip.

"Gimana…"

"Punggung tangan kirimu." Dia menunjuk tanpa menyentuh. "Bintik-bintik bekas cipratan minyak. Ada yang lama, ada yang baru banget. Yang dekat jempol itu kayaknya dari tadi pagi, masih merah. Orang yang cuma sesekali goreng nggak punya sebanyak itu. Dan nggak di tangan kiri. Tangan kiri kena kalau kamu megang tampah atau wajan, sementara tangan kanan megang serok. Itu posisi orang yang goreng dalam jumlah banyak."

Aku menatap punggung tanganku sendiri seolah-olah itu milik orang lain.

"Jaketmu," lanjutnya. "Baunya jahe sama serai. Bukan parfum. Nggak ada cowok SMA yang pakai parfum bau jahe. Itu bau rebusan. Banyak. Jamu." Dia memiringkan kepala. "Tapi waktu kita tabrakan di gang, jaketmu cuma bau minyak goreng. Bau jahenya baru muncul seminggu kemudian. Jadi jamunya baru. Ada yang baru mulai jualan jamu di rumahmu, kira-kira pas program kelas tiga mulai."

Dia berhenti di situ. Aku tidak tahu apakah dia sudah menyambungkan dua hal itu, yaitu jamu yang baru dan bimbel yang baru. Namun, dia melihat sesuatu di wajahku, dan dia tidak meneruskannya. Dia langsung pindah ke kakiku.

"Sepatumu. Pinggirnya selalu ada tanah merah, padahal Jalan Kembangan aspal semua dan lantai Gading Putih keramik. Tanah merah kayak gitu cuma ada di gang-gang yang belum diaspal di sekitar Pandean. Pembantu Ana orang sana, sandalnya juga begitu."

"Dan uang?"

"Kamu ngitungin receh Ana minggu lalu. Tiga ribu dua ratus, nggak pakai mikir. Orang yang tiap hari ngitung kembalian dagangan bisa begitu." Dia tersenyum kecil. "Dan kamu misahin receh di dua saku. Kiri buat pengamen, kanan buat ongkos. Aku lihat kamu ngerogoh."

"Bapakku?"

"Buku catatanmu." Dia melirik buku tulis tebal bersampul hijau tua di pangkuanku. "Itu buku agenda dinas tahun 2002. Ada logo Korpri kecil di pojok sampulnya, walaupun udah kamu tempelin stiker. Buku kayak gitu dibagiin ke pegawai negeri tiap akhir tahun, dan yang sisa biasanya dibawa pulang buat anaknya."

Aku memang menempelkan stiker itu supaya logonya tidak kelihatan. Aku tidak pernah bilang ke siapa pun kenapa. Rupanya aku tidak perlu bilang.

Aku tidak tahu harus merasa apa. Mungkin rasanya seperti ditelanjangi, tetapi tidak dengan cara yang buruk. Rasanya seperti seseorang membaca buku catatanku dan menemukan semua halaman yang tidak pernah kutunjukkan kepada siapa pun. Lalu, alih-alih tertawa, dia mengangguk-angguk seolah halaman-halaman itu menarik.

"Satu lagi," kata Kenyo. "Kamu anak sulung. Adikmu mungkin dua. Soalnya kamu selalu yang pertama berdiri kalau Ana jatuhin sesuatu, kayak orang yang udah biasa ngurusin yang lebih kecil."

"Satu," kataku. "Perempuan. Baru masuk kelas satu, di sekolahku juga."

Wajahnya berubah. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Isti Kenyo terlihat tidak terima.

"Satu," ulangnya, seperti sedang mencoret sesuatu di kepala. Lalu, setelah jeda yang cukup panjang sampai angkot melewati dua tiang listrik: "Holmes juga pernah salah. Di 'Wajah Kuning'." Dia mendengus pelan. "Aku baca semua ceritanya dua kali. Kecuali satu, yang di buku perpustakaan halaman seratus dua belasnya hilang."

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Tawa itu keluar begitu saja, cukup keras sampai Pak Kirno melirik lewat spion, dan Kenyo menatapku dengan alis terangkat, lalu ikut tertawa.

"Gimana kamu bisa merhatiin semua itu?" tanyaku setelah kami berhenti.

"Gimana kamu bisa ngerjain soal katrol dalam tiga baris?"

"Itu beda. Itu fisika."

"Ini juga fisika." Dia mengangkat bahu. "Orang juga benda. Mereka ninggalin jejak. Tinggal diperhatiin aja."

Aku memikirkan kalimat itu. Lalu aku memikirkan hal lain, sesuatu yang sudah tiga minggu berputar di kepalaku, setiap sore, setiap kali angkot berbelok di pertigaan Masjid Tanisari.

"Boleh aku coba juga?" tanyaku.

Dia tampak senang. "Silakan, Watson."

"Kok aku Watson?"

"Karena kamu yang nanya 'gimana'."

Aku menarik napas. Aku tidak terbiasa bicara panjang. Namun, aku terbiasa menyusun langkah demi langkah sampai jawabannya muncul sendiri. Jadi aku memperlakukannya seperti soal.

"Ada sedan perak," kataku pelan, "yang parkir di depan Masjid Tanisari setiap sore. Jam lima empat puluh. Mesinnya selalu hidup. Orang yang cuma nunggu sebentar biasanya matiin mesin, biar hemat bensin. Yang nggak berani matiin mesin itu orang yang disuruh nunggu sampai seseorang masuk mobil, dan takut ditegur kalau orang itu harus nunggu satu detik pun."

Kenyo tidak bergerak.

"Sopirnya keluar bawa payung setiap kali kamu turun. Kamu nggak pernah noleh. Kamu jalan bareng Ana, dan mobilnya ngikutin pelan-pelan di belakang. Arahnya ke Jalan Welis, bukan ke perumahan Tanisari." Aku menatap sepatunya. "Sepatumu kulit asli. Mereknya kecil, dicap di samping, tapi aku pernah lihat merek itu di etalase toko di Jalan Cakrawala yang satpamnya pakai jas. Ujungnya lecet. Bukan lecet karena lama dipakai. Lecetnya di dua sisi, rata. Kamu sengaja jalan lewat genangan. Kamu sengaja bikin sepatumu kelihatan biasa."

Aku berhenti. Kenyo menatap lurus ke depan. Tangan kanannya, tanpa dia sadari, bergerak ke pergelangan tangan kiri, ke jam tangan yang piringannya selalu menghadap ke dalam.

"Dan jam tanganmu," kataku, lebih pelan lagi. "Kamu selalu muter piringannya ke dalam. Setiap kali angkot udah dekat Tanisari."

Hening. Wiper tidak bergerak karena hari itu tidak hujan. Mesin angkot menggerutu. Di luar, seorang penjual balon berjalan melawan arus kendaraan dengan puluhan balon warna-warni bergoyang di atas kepalanya, dan aku memperhatikan balon-balon itu karena aku tidak berani memperhatikan wajah Kenyo.

"Kamu nggak suka dijemput," kataku. "Dan kamu nggak mau orang di angkot ini tahu kamu dijemput."

Lama dia tidak menjawab. Lalu dia memutar jam tangannya menghadap ke luar, sebentar saja, sehingga aku bisa melihat piringannya yang keemasan dan tulisan kecil di bawah angka dua belas. Lalu dia memutarnya kembali ke dalam.

"Itu bukan deduksi," katanya akhirnya, pelan. "Itu ngintip."

Dadaku mengerut. "Maaf. Aku nggak…"

"Nggak." Dia menoleh, dan anehnya, dia tersenyum. Senyum kecil yang sedikit miring, seperti senyum orang yang kalah main catur dan tidak keberatan. "Kamu bener. Semuanya."

"Ana tahu?"

"Ana tahu aku nggak suka dijemput." Dia kembali menatap ke luar. "Ana nggak tahu kenapa."

Aku tahu seharusnya aku diam. Watson yang baik tahu kapan harus diam. Namun, waktu itu aku belum membaca satu pun cerita tentang Watson.

"Kenapa?"

Kenyo memandangiku lama. Lalu dia mengangkat satu jari, seperti guru yang mengingatkan murid.

"Pertanyaanmu udah habis buat perjalanan ini, Watson."

Angkot berbelok di pertigaan. Kubah hijau Masjid Tanisari muncul di balik deretan pohon asam. Di depannya, seperti setiap sore, sedan perak itu sudah menunggu dengan mesin menyala.

Kenyo turun tanpa berkata apa-apa lagi. Dia tidak menoleh ke sedan itu. Dia juga tidak menoleh kepadaku.


Aku melewati malam itu dengan keyakinan bahwa aku sudah merusak segalanya.

Aku mencuci gelas-gelas jamu Ibu pukul sebelas malam dan memecahkan satu. Aku mengerjakan soal latihan integral dan salah tanda dua kali, kesalahan yang tidak pernah kubuat sejak kelas satu. Aku berbaring di kasur kapuk dan menyusun permintaan maaf di kepala: versi panjang, versi pendek, dan versi yang pura-pura tidak terjadi apa-apa. Lalu aku menolak semuanya.

Sore berikutnya aku duduk di bangku panjang sisi kiri, dekat jendela kedua, dan menunggu. Lima menit berlalu, lalu sepuluh. Dua angkot D lewat dan kubiarkan lewat, dan kernet anak SMP itu menatapku seperti orang aneh, yang mungkin memang benar.

Di D yang ketiga, Kenyo naik.

Dia membayar Pak Kirno. Dia menolak kembalian. Dia duduk di sebelahku, seperti biasa, lalu membuka novel Agatha Christie yang sampulnya ditambal selotip, juga seperti biasa. Dia membaca tiga halaman tanpa berkata apa-apa.

Lalu, tanpa mengangkat mata dari bukunya, dia menyelipkan selembar kertas binder yang dilipat kecil ke sela-sela halaman buku latihan soal di pangkuanku.

"Nomor rumah," katanya. "Kalau ada soal yang bikin aku buntu, boleh aku nanya? Kamu bisa telepon. Atau… kalau kamu yang buntu." Dia membalik halaman. "Walaupun kayaknya kamu nggak pernah buntu."

"Sering," kataku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. "Aku sering buntu."

"Bagus. Berarti kamu bakal nelepon." Dia membalik halaman lagi, padahal aku yakin dia belum selesai membaca halaman sebelumnya. "Satu lagi. Jangan telepon HP-ku, ya."

"Aku nggak punya HP buat nelepon HP-mu."

"Nggak apa-apa. Pokoknya jangan."

Aku tidak bertanya kenapa. Jatah pertanyaanku untuk perjalanan itu masih utuh, dan aku memutuskan untuk menabungnya.

Aku tidak membuka lipatan kertas itu sampai Kenyo turun di Tanisari dan sedan perak itu mulai merayap di belakangnya. Lalu, di bawah cahaya kuning lampu jalan yang masuk lewat jendela kedua, aku membukanya.

Di sana tertulis enam angka dengan tulisan tangannya yang rapi seperti cetakan. Di bawahnya, dengan huruf yang jauh lebih kecil, seolah ditambahkan belakangan setelah lama dipertimbangkan:

Jam 7–9 malam aja. Kalau yang angkat suara laki-laki, tutup.

Aku membaca kalimat terakhir itu tiga kali sementara angkot berguncang menuju Pandean. Tiga kali pula aku gagal menemukan cara membacanya yang tidak membuat tengkukku dingin.

889296100104108
ON AIR   0:00