← Lintasan Yang Tak Pernah Selesai

Bab 3: Bilik Nomor Dua

Wartel Harun berdiri di Gang Watu Luhur, di belakang Pasar Sawung, sepuluh menit berjalan kaki dari rumah kami kalau tidak hujan, dan lima belas menit kalau hujan, karena aku harus memutar lewat jalan yang lebih tinggi supaya sepatuku tidak kemasukan air.

Bangunannya hanya sebuah kios berdinding tripleks yang dicat hijau muda. Di depannya tergantung papan seng bertuliskan WARTEL dengan huruf merah, dan di bawahnya, lebih kecil, LOKAL · INTERLOKAL · SLJJ. Di dalam ada tiga bilik telepon, masing-masing hanya cukup untuk satu orang berdiri dan satu kursi plastik yang kakinya tidak sama panjang. Di sudut, di balik meja kayu yang permukaannya penuh bekas puntung rokok, duduk pemiliknya: Pak Harun.

Pak Harun adalah laki-laki tua bertubuh kecil dengan kacamata setebal pantat botol, peci hitam yang selalu agak miring ke kiri, dan wajah yang membuat orang mengira dia baru saja menelan sesuatu yang asam. Sepanjang malam, radio di mejanya memutar siaran wayang kulit dari radio daerah, dan suara dalang yang menirukan para raksasa bercampur dengan bunyi argo, kotak abu-abu berangka merah yang menghitung pulsa setiap bilik. Satu pulsa lokal tiga menit. Dua ratus lima puluh rupiah.

Aku sudah menghitungnya sebelum malam pertama. Kalau aku menelepon satu jam, harganya lima ribu rupiah. Itu sama dengan tujuh belas bakwan.


Malam pertama aku berdiri di depan bilik nomor dua pukul tujuh kurang lima, dengan kertas binder berisi enam angka yang sudah lecek karena terlalu sering kubuka dan kulipat lagi di sepanjang jalan.

Aku masuk, menutup pintunya, lalu mengikat gerendelnya yang rusak dengan seutas tali rafia, seperti yang dilakukan semua orang sebelum aku. Dinding tripleks di sekelilingku penuh coretan pulpen: nomor-nomor telepon, tanda hati yang ditusuk panah, RINA ♥ DEDI SELAMANYA, dan di bawahnya, dengan tulisan tangan yang berbeda, SELAMANYA APAAN, DEDI UDAH NIKAH. Bau bilik itu campuran asap kretek, keringat, dan parfum murahan yang entah milik siapa.

Aku mengangkat gagang telepon. Bunyi nada sambungnya panjang dan datar.

Aku menekan angka pertama. Lalu angka kedua. Di angka ketiga, tanganku berhenti di udara, dan aku meletakkan gagangnya kembali.

Percobaan kedua, aku sampai di angka kelima sebelum kehilangan keberanian.

Percobaan ketiga, aku menekan keenam angka dengan lengkap, lalu sadar aku salah tekan angka keempat, dan buru-buru menutupnya sebelum ada yang mengangkat di rumah orang lain.

Dari balik dinding tripleks, aku mendengar Pak Harun berdeham.

"Mas," katanya tanpa mengangkat mata dari radionya, "telepon itu nggak gigit."

Aku menarik napas, mengangkat gagang untuk keempat kalinya, dan menekan angka-angka itu pelan-pelan, satu per satu, seperti sedang menyusun soal yang tidak boleh salah tanda.

Nada sambung. Sekali.

"Halo?"

Suaranya terdengar bahkan sebelum dering pertama selesai.

"Ini… Alan," kataku. Lalu, karena aku tidak tahu harus berkata apa lagi, aku mengulanginya. "Alan. Dari Gading Putih."

"Aku tahu." Ada tawa kecil di ujung sana. "Aku udah duduk di sebelah telepon dari jam tujuh kurang. Kamu telat empat menit."

"Tadi aku salah pencet."

"Tiga kali?"

Aku terdiam. Dia tidak mungkin tahu. Lalu aku sadar dia memang tidak tahu. Dia hanya menebak, dan tebakannya benar, dan dia mendengar diamku sebagai jawaban.

"Holmes," kataku akhirnya.

"Watson," balasnya, dan aku bisa mendengar senyumnya.

Kami mulai dengan soal fisika, karena itulah alasan resminya. Dia membaca sebuah soal momentum dari buku latihannya, aku menjelaskan cara mengerjakannya, dan dia menulisnya, sesekali menyuruhku mengulang karena tangannya tidak secepat suaraku. Sepuluh menit kemudian soal itu selesai. Dua puluh menit kemudian kami sudah tidak bicara tentang fisika sama sekali.

Dia bertanya apa yang kulihat dari dalam bilik itu, dan aku membacakan coretan-coretan di dindingnya. Dia tertawa begitu keras mendengar soal Rina dan Dedi sampai aku harus menjauhkan gagang telepon dari telinga.

"Kasihan Rina," katanya setelah tawanya reda.

"Kasihan Dedi juga. Namanya ditulis di wartel seumur hidup."

"Itu bukan hukuman, Alan. Itu monumen."

Dia bertanya apa makanan kesukaanku, dan aku menjawab telur dadar pakai kecap, dan dia berkata bahwa itu makanan paling jujur di dunia. Dia bercerita bahwa di rumahnya ada juru masak yang bisa membuat apa saja, tapi kalau sedang sedih, yang dia minta selalu telur dadar pakai kecap. Aku tidak bertanya kenapa di rumahnya ada juru masak. Aku menyimpannya bersama sedan perak dan jam tangan yang piringannya menghadap ke dalam, di tumpukan hal-hal yang belum kumengerti tentang Isti Kenyo.

Pukul tujuh lewat lima puluh, suaranya tiba-tiba turun setengah nada.

"Bentar," bisiknya.

Aku mendengar langkah kaki di ujung sana, sebuah pintu, suara seorang perempuan dewasa yang berkata sesuatu yang tidak jelas. Kenyo menjawab dengan suara yang sama sekali berbeda dari yang dia pakai padaku, suara yang rapi dan sopan, seperti suara murid yang sedang menjawab guru. Lalu pintu tertutup lagi.

"Udah," katanya, kembali ke suaranya yang biasa. "Ibu."

"Kamu dimarahin?"

"Nggak. Ibu cuma nanya aku lagi telepon siapa."

"Terus kamu jawab apa?"

"Teman les." Dia diam sebentar. "Itu kan bener."

Malam itu kami bicara selama empat puluh tujuh menit. Ketika aku keluar dari bilik, argo di meja Pak Harun menunjukkan angka merah yang membuat perutku sedikit mulas.

Pak Harun melihat angka itu, lalu melihatku dari balik kacamatanya.

"Lama juga, Mas," katanya.

"Soal fisika, Pak."

"Soal fisika," ulangnya, dengan nada orang yang sudah menjaga wartel selama dua puluh tahun dan sudah mendengar semua alasan di dunia. Dia menerima uangku, menghitung kembaliannya dengan jari yang gemetar, lalu kembali ke wayangnya.


Uangku habis dalam empat malam.

Aku tidak mau meminta kepada Ibu. Ibu sudah menjual tenaganya sendiri sampai jam sembilan malam demi bimbelku, dan aku tidak akan menambah angka di buku pembukuan kami untuk sesuatu yang tidak bisa kujelaskan kepadanya. Jadi aku mencari jalan lain, dan jalan itu ternyata ada di dua tempat.

Yang pertama adalah sekolah. Setiap pagi aku membawa satu tampah kecil gorengan Ibu ke SMAN 7 Banyuwening, ditutup kain serbet, dan menjualnya di kelas sebelum bel. Ibu membolehkanku menyimpan seratus rupiah dari setiap gorengan yang laku. Agus membeli lima setiap hari, tanpa kecuali, bahkan pada hari dia membawa bekal nasi goreng dari rumah.

"Teori Agus nomor empat belas," katanya sambil mengunyah bakwan keduanya. "Investasi terbaik adalah investasi pada sahabat yang sedang jatuh cinta. Bunganya nanti dibayar pakai cerita."

"Aku nggak jatuh cinta."

"Kamu jualan gorengan buat bayar wartel, Lan."

Aku tidak menjawab. Dia mengambil bakwan ketiga.

Yang kedua adalah Pak Harun sendiri.

Pada malam kelima, saat aku berdiri di depan mejanya menghitung receh yang tidak cukup untuk satu jam, aku melihat buku besar bersampul batik di sebelah radionya. Itu buku catatan pendapatan wartel. Halaman yang terbuka penuh coretan, angka yang ditimpa angka, dan jumlah di bagian bawah yang jelas salah, karena aku bisa melihat dari tempatku berdiri bahwa dua baris di atasnya tidak dijumlahkan.

"Pak," kataku, sebelum aku sempat menimbang apakah itu sopan. "Itu salah jumlah."

Pak Harun menatapku lama. Lalu dia memutar buku itu menghadap kepadaku dan menyodorkan pulpen.

"Coba betulin."

Aku membetulkannya. Lalu aku membetulkan halaman sebelumnya, dan halaman sebelumnya lagi. Ternyata selama tiga bulan Pak Harun mencatat pendapatannya dengan mata yang makin rabun, dan selama tiga bulan pula dia mengira wartelnya rugi, padahal tidak.

Sejak malam itu kami punya perjanjian. Setiap malam, setelah wartel tutup, aku menyalin angka-angka di argo ke buku besarnya dan menjumlahkannya. Sebagai gantinya, setiap pulsa dari bilik nomor dua setelah pukul tujuh malam dihitung setengah harga. Pak Harun tidak pernah menyebutnya perjanjian. Dia menyebutnya langganan.

"Mas Alan langganan," katanya kepada siapa pun yang bertanya kenapa anak SMA itu boleh memakai bilik nomor dua setiap malam, tepat pukul tujuh, seolah bilik itu sudah dipesan atas namanya.


Begitulah, selama dua minggu berikutnya, malam-malamku punya bentuk yang baru.

Pukul enam, aku membantu Ibu dan Bapak di gerobak jamu, menuang beras kencur dan mencuci gelas. Begitu azan magrib terdengar, Bapak menyerahkan gerobak kepada Ibu dan berjalan ke masjid, dan aku mengikutinya. Selepas salat magrib, aku pamit.

"Mau ke mana, Mas?" tanya Susan suatu malam dari teras, dengan nada yang terlalu polos untuk benar-benar polos.

"Belajar kelompok."

"Kelompoknya cuma satu orang, ya? Yang suaranya cewek?"

Ibu menyikut Susan pelan, tapi aku melihat Ibu juga menahan senyum.

"Jangan pulang lewat jam sepuluh, Lan," kata Ibu, tanpa bertanya apa-apa lagi.

Pukul tujuh tepat, aku sudah di bilik nomor dua, tali rafia sudah terikat, dan Kenyo selalu mengangkat sebelum dering pertama selesai.

Sejak malam kedua, kami punya satu jeda yang tidak pernah kami rencanakan. Setiap malam, tidak lama setelah pukul tujuh, azan isya terdengar dari musala kecil di sebelah Pasar Sawung, dan di ujung telepon, samar-samar, aku bisa mendengar azan yang lain dari masjid dekat rumah Kenyo.

"Isya dulu, ya," katanya.

Kami menutup telepon. Kenyo salat di kamarnya. Aku salat di musala itu, di antara para pedagang pasar yang bajunya masih berbau ikan asin, lalu kembali ke bilik nomor dua dan menekan keenam angka itu lagi. Pak Harun tidak pernah menghitung pulsa yang terputus karena isya.

"Itu urusan Gusti Allah," katanya, "bukan urusan argo."

Kami bicara tentang apa saja. Tentang soal-soal yang dia buntu, yang lama-lama makin jarang karena dia sebenarnya jarang buntu. Tentang Ana, yang hari itu menjatuhkan bekal makan siangnya ke kolam ikan sekolah dan menangis, bukan karena bekalnya, melainkan karena ikannya kelihatan kekenyangan. Tentang Pak Wiryo, yang menurut teori terbaru Kenyo sebenarnya mantan agen rahasia, karena tidak ada guru fisika biasa yang bisa menatap orang selama dua detik dengan ekspresi sekosong itu.

Lalu, pada malam kesembilan, dia bertanya apakah aku mau mendengar sebuah cerita.

"Cerita apa?"

"Holmes. Kamu kan belum pernah baca satu pun. Itu kejahatan yang lebih besar daripada semua kasus di buku ini."

Dia pun membacakannya untukku. Liga Orang Berambut Merah, dari buku perpustakaan yang sudah kering setelah dijemur di atas rice cooker. Dia membacanya pelan, dengan suara yang berbeda untuk setiap tokoh: suara Holmes yang tenang dan sedikit sombong, suara Watson yang selalu terdengar kagum, suara Tuan Wilson si rambut merah yang panik. Aku duduk di kursi plastik yang kakinya tidak sama panjang, punggungku bersandar ke dinding tripleks penuh coretan, dan mendengarkan, sementara di balik dinding itu dalang di radio Pak Harun sedang memainkan perang Baratayuda.

Dia tidak menyelesaikannya malam itu. Pukul sembilan kurang lima, suaranya turun lagi setengah nada.

"Besok kita lanjutin," bisiknya. "Jangan cari tahu akhirnya sendiri, ya. Janji."

"Janji."

Aku tidak mencari tahu. Aku menunggu dua puluh dua jam untuk mendengar bagaimana Holmes memecahkan kasus itu, dan itu adalah dua puluh dua jam terpanjang dalam hidupku sampai saat itu.

Ada malam-malam ketika kami tidak banyak bicara. Dia mengerjakan soal di ujung sana, aku mengerjakan soal di bilik nomor dua, dan selama beberapa menit yang terdengar di gagang telepon hanya bunyi pensil dan napas. Argo di meja Pak Harun terus berjalan.

"Diam juga dihitung pulsa, lho," kata Kenyo pada salah satu malam seperti itu.

"Aku tahu."

"Nggak sayang?"

Aku memikirkan jawabannya. Aku memikirkan tujuh belas bakwan, buku besar bersampul batik, dan tampah kecil di kelas setiap pagi.

"Diamnya bagus," kataku.

Dia tidak menjawab. Namun, beberapa detik kemudian, aku mendengar dia tertawa sangat pelan, seperti orang yang sedang menyimpan sesuatu di saku supaya tidak hilang.

Empat belas tahun kemudian, di sebuah laboratorium yang jaraknya lima ribu kilometer dari Gang Watu Luhur, aku masih bisa mengingat bunyi argo itu. Klik pelan setiap tiga menit, seperti jam yang hanya menghitung waktu yang berharga.


Kenyo tidak bisa meneleponku. Rumah kami tidak punya telepon, dan wartel Pak Harun tidak menerima telepon masuk. Jadi, kalau ada yang berubah, misalnya dia harus pergi bersama keluarganya atau ada tamu di rumah, kabarnya datang lewat satu-satunya jalur yang tersedia: Nokia 3310 milik Agus.

Kenyo mendapat nomor Agus dari Ana, yang mendapatkannya dari Agus sendiri, yang membagikan nomornya kepada siapa pun yang mau mendengar. Agus, sebagai satu-satunya orang di lingkaran kami yang punya HP, menjalankan tugasnya sebagai kurir dengan kesungguhan seorang pegawai kantor pos dan kedramatisan seorang pembawa acara sinetron.

"Pesan masuk," katanya suatu pagi, berdiri di depan mejaku dengan HP terangkat seperti piagam. "Dari: Kenyo. Isi: Gus, tolong bilang Alan malam ini jam 8 aja ya, ada tamu. Makasih." Dia menurunkan HP-nya. "Pesan selesai. Ongkos kurir: satu bakwan."

Aku menyodorkan satu bakwan.

"Teori Agus nomor lima belas," katanya sambil mengunyah. "Cewek yang ngirim pesan lewat temanmu itu sebenarnya lagi ngetes temanmu. Mau lihat, temannya bisa jaga rahasia atau nggak."

"Terus? Kamu bisa?"

"Aku udah cerita ke Ana," katanya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Tapi Ana nggak dihitung. Ana udah tahu semuanya dari awal."

Belakangan, dari cara Ana menatapku setiap kali nama Kenyo disebut, aku mengerti bahwa Agus benar, meskipun bukan dengan cara yang dia maksud.


Malam itu malam Kamis. Aku ingat karena Pak Harun sedang mendengarkan siaran wayang dengan lakon yang sama seperti minggu lalu, dan dia menggerutu kepada radionya bahwa dalang zaman sekarang malas.

Lewat pesan di HP Agus, Kenyo meminta jam delapan. Jadi aku datang jam delapan kurang lima, mengikat tali rafia, mengangkat gagang, dan menekan keenam angka itu tanpa perlu melihat kertas lagi.

Nada sambung. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Dia belum pernah membiarkan telepon berdering tiga kali.

Pada dering keempat, seseorang mengangkat.

"Halo."

Suara laki-laki. Dalam, datar, dan tenang dengan cara yang membuat bulu tengkukku berdiri. Bukan suara yang ramah dan bukan suara yang marah. Suara orang yang terbiasa membuat orang lain menunggu.

Aku tidak berkata apa-apa. Kertas binder itu terlipat di saku kemejaku, tapi aku tidak perlu membukanya. Aku hafal kalimat di bawah keenam angka itu.

Kalau yang angkat suara laki-laki, tutup.

"Halo," ulang suara itu. Lalu, lebih pelan: "Siapa ini?"

Aku meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya, sangat pelan, seolah bunyinya bisa terdengar sampai ke Jalan Welis.

Argo di meja Pak Harun menunjukkan satu pulsa. Seratus dua puluh lima rupiah, harga langganan.

"Salah sambung, Mas?" tanya Pak Harun.

"Iya, Pak."

"Salah sambung juga bayar," katanya, dan menerima koin dari tanganku tanpa melihat wajahku. Aku bersyukur untuk itu.

Aku berjalan pulang lewat jalan yang lebih tinggi, meskipun malam itu tidak hujan. Aku tidak tidur sampai lewat tengah malam. Aku berbaring di kasur kapuk, mendengarkan jangkrik di halaman belakang, dan memutar ulang suara itu di kepalaku seperti kaset yang pitanya hampir putus. Siapa ini?


Esok sorenya, di angkot D, Kenyo naik seperti biasa. Dia membayar Pak Kirno, menolak kembalian, dan duduk di sebelahku. Dia tidak membuka novelnya.

Angkot sudah melewati dua lampu merah ketika akhirnya dia bicara, tanpa menoleh.

"Semalam kamu nelepon jam delapan lewat?"

Aku menelan ludah. "Iya."

"Papa yang angkat."

Aku menunggu. Di luar jendela, deretan toko di Jalan Cakrawala mulai menyalakan lampunya, satu per satu.

"Papa nanya siapa yang nelepon terus ditutup," kata Kenyo pelan. "Aku bilang salah sambung."

Dia diam lama. Tangan kanannya bergerak ke pergelangan tangan kiri, memutar jam tangannya sehingga piringannya menghadap ke dalam, padahal angkot masih jauh dari Tanisari.

"Itu bohong pertama aku buat kamu," katanya.

889296100104108
ON AIR   0:00