← Lintasan Yang Tak Pernah Selesai

Bab 4: Ratu Lorong Belakang

Papan neraka diganti setiap Senin pertama awal bulan, pukul setengah tiga sore, dan upacaranya selalu sama.

Bu Tutik mengetik daftar peringkat di mesin ketik tua di ruang administrasi, dengan kertas karbon supaya ada salinan untuk arsip Pak Darsono. Mbah Seno membawa daftar itu ke tangga dengan dua tangan, seperti membawa nampan berisi teh tubruk. Dia mencabut paku payung dari daftar bulan lalu satu per satu, menyimpannya di saku baju, lalu menusukkan daftar yang baru ke papan gabus dengan jempolnya. Setelah itu dia mundur dua langkah, memiringkan kepala, dan memastikan kertasnya lurus. Baru setelah itu dia minggir, dan anak-anak yang sudah menunggu di anak tangga paling bawah menyerbu naik seperti air yang baru dibukakan pintu.

Aku tidak pernah ikut menyerbu. Selama program kelas dua aku membaca papan itu dari anak tangga ketiga, cukup dekat untuk melihat nama di peringkat tiga dan cukup jauh supaya tidak ada yang melihatku membacanya.

Pada Senin pertama bulan Agustus 2002, aku tidak perlu mendekat. Agus yang mendekat untukku. Dia menembus kerumunan dengan bahunya, berdiri di depan papan selama lima detik, lalu berbalik dengan wajah orang yang baru melihat hantu di siang bolong.

"Lan," katanya. "Lima."

"Lima apa?"

"Kamu. Peringkat lima."

Aku naik dua anak tangga lagi, lalu dua lagi, sampai hidungku hampir menyentuh kertas itu. Di sana, di antara nama-nama yang selama ini hanya kubaca dari jauh, ada namaku sendiri, diketik dengan pita mesin ketik yang mulai pudar.

5. Muhammad Alan Syauqi, SMAN 7 Banyuwening.

Dua baris di atasnya: 3. Isti Kenyo, SMA Insan Mulia.

Aku mencari nama Agus. Aku menemukannya di peringkat lima puluh delapan.

"Teori Agus nomor enam belas," katanya sebelum aku sempat berkata apa pun. "Di atas lima puluh, peringkat itu cuma angka. Di bawah lima puluh, peringkat itu identitas. Aku nggak mau punya identitas, Lan. Berat."

Mbah Seno masih berdiri di bawah tangga dengan gelas teh tubruknya. Ketika aku turun, dia menatapku lebih lama dari biasanya.

"Nama yang naiknya cepat biasanya turunnya juga cepat, Le," katanya. "Kecuali yang naiknya pelan-pelan dari bawah." Dia menyeruput tehnya. "Kamu naiknya dari mana?"

"Dua puluh delapan, Mbah."

Dia mengangguk, seolah angka itu menjawab sesuatu, lalu kembali ke kursi plastiknya di samping gerbang.

Pak Wiryo hanya menyebut namaku satu kali sore itu. Dia masuk kelas, meletakkan kapur di meja, menatap barisan tengah selama dua detik, dan berkata, "Sauki. Lima." Lalu dia berbalik ke papan tulis dan mulai menggambar bidang miring, dan aku tidak pernah tahu apakah itu pujian atau peringatan.

Di angkot D, Kenyo baru bicara setelah kami melewati lampu merah pertama.

"Selamat, Watson."

"Kamu tetap tiga."

"Tiga itu nyaman." Dia membuka novelnya, tetapi tidak membacanya. "Nomor satu selalu dikejar. Nomor dua selalu dibanding-bandingkan sama nomor satu. Nomor tiga nggak ada yang peduli."

"Nomor lima?"

Dia diam sebentar, memandang keluar jendela, ke deretan toko di Jalan Cakrawala.

"Nomor lima mulai dilihat orang," katanya.

Waktu itu aku mengira dia sedang bercanda.


Gading Putih punya dua tangga. Tangga depan adalah tangga resmi, tempat papan neraka dan aturan-aturan yang dicat di dinding. Tangga belakang adalah tangga besi berkarat di ujung lorong lantai dua, yang naik ke atap tempat Mbah Seno menjemur sarung dan kemejanya.

Lorong yang menuju tangga belakang itu sempit, diapit dinding kelas IPA-1 dan pintu kamar mandi yang kuncinya sudah rusak sejak sebelum kami lahir. Jendelanya menghadap ke belakang toko buku bekas, ke Gang Kembangan, tempat aku menabrak Kenyo di bawah gerimis yang salah musim. Tidak ada guru yang lewat di sana. Tidak ada aturan yang dicat di dindingnya.

Anak-anak Gema Bangsa menyebutnya lorong belakang, dan mereka menguasainya seperti orang menguasai tanah warisan. Yang laki-laki bersandar di pagar tangga dengan seragam yang dikeluarkan. Yang perempuan merapikan rambut dengan memakai kaca jendela sebagai cermin. Bungkus keripik kentang berserakan di lantai, dan setiap sore Mbah Seno menyapunya tanpa berkata apa-apa.

Ratunya adalah Sarah Nuraini.

Aku tidak berada di lorong itu pada hari Sarah memutuskan sesuatu tentang aku. Bagian ini kususun belakangan, dengan cara yang akan disetujui Holmes, dari potongan-potongan cerita orang lain: dari Agus, yang kebetulan berada di kamar mandi dengan kunci rusak itu; dari Ana, yang mendengarnya dari Icha di angkot; dan berbulan-bulan kemudian, dari Rani, yang pada akhirnya tidak sanggup menyimpan apa pun.

Menurut mereka, kejadiannya kira-kira begini.

Sore itu Rani datang dari tangga depan sambil membawa kabar, seperti setiap Senin pertama.

"Lima besar ada nama baru."

"Siapa?" tanya Sarah, tanpa berhenti merapikan poninya di kaca jendela.

"Anak SMAN 7. Yang jualan gorengan di sekolahnya," kata Icha. "Sepupuku sekelas sama dia."

"Yang duduknya sama si gendut?"

Di dalam kamar mandi, Agus hampir membuka pintu untuk memprotes. Belakangan dia berkata kepadaku bahwa dia tidak gendut, melainkan terstruktur. Namun, dia memutuskan bahwa informasi lebih penting daripada harga diri, jadi dia tetap diam dan menempelkan telinganya ke pintu.

"Dia nggak pernah ngomong sama siapa pun," kata Rani. "Kecuali sama anak Insan Mulia yang kerudung abu-abu itu. Tiap hari pulang bareng naik angkot."

Sarah berhenti merapikan poni.

"Semua cowok ngomong," katanya, "kalau yang ngajak ngomong orangnya tepat."

"Taruhan?" kata Icha.

Menurut mereka, Sarah tidak langsung menjawab. Dia memandang ke luar jendela, ke Gang Kembangan, seolah sedang mengukur jaraknya.

"Tiga bulan," katanya. "Dia yang bilang suka duluan."

"Kalau kamu kalah?"

"Panadero. Yang large, tiga loyang, aku yang bayar." Sarah tersenyum. "Kalau aku menang, kalian berdua yang bayar. Dan kalian yang nganterin pizzanya ke mejaku."

Pada tahun 2002, satu loyang pizza besar di Panadero, Jalan Cakrawala, harganya enam puluh ribu rupiah. Aku baru menghitungnya bertahun-tahun kemudian: tiga loyang sama dengan enam ratus bakwan Ibu.

Di anak tangga besi paling bawah, kata Agus, Andre duduk sendirian dan mendengar semuanya. Dia menggigit tutup pulpennya sampai retak.


"Kamu jadi soal ujian, Lan."

Agus menceritakan semuanya keesokan paginya, di kelas, sambil memakan bakwan keduanya. Dia menceritakannya dengan lengkap, dengan suara yang berbeda untuk setiap tokoh, termasuk bunyi air dari keran kamar mandi.

"Kenapa aku?" tanyaku.

"Teori Agus nomor tujuh belas. Cewek kayak Sarah nggak milih cowok. Mereka milih tantangan." Dia menunjukku dengan bakwan. "Kamu bukan cowok di mata dia. Kamu soal nomor tiga puluh yang nggak bisa dikerjain siapa-siapa."

"Aku nggak mau jadi soal."

"Soal nggak pernah ditanya mau atau nggak, Lan."

Aku memutuskan untuk tidak memercayainya. Itu keputusan yang mudah, karena memercayainya berarti mengakui bahwa seseorang seperti Sarah Nuraini pernah menghabiskan satu sore untuk memikirkan seseorang seperti aku, dan aku tidak punya tempat di kepalaku untuk menyimpan kemungkinan semacam itu.

Namun, hari Selasa, Sarah berdiri di samping mejaku sebelum Pak Wiryo masuk.

"Alan, ya?" Dia tersenyum, dan aku mencium wangi yang tidak kukenal, manis dan mahal. "Pinjem catatan Fisika yang kemarin, dong. Aku nggak sempat nyatet."

Aku memberikan buku agenda dinas bersampul hijau tua itu karena aku tidak tahu cara menolak seseorang yang tersenyum. Dia mengembalikannya keesokan harinya dengan sebutir permen yang diselotip di sampul dalam.

Hari Kamis, dia meletakkan sebungkus permen kopi di mejaku. "Biar nggak ngantuk," katanya. "Kamu kan bangun jam tiga tiap hari."

Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun di Gading Putih bahwa aku bangun jam tiga. Selama sisa pelajaran aku tidak bisa berkonsentrasi pada bidang miring Pak Wiryo. Aku sibuk memikirkan siapa saja di dunia ini yang tahu jam berapa aku bangun, dan berapa orang di antara mereka yang punya sepupu di kelasku.

Hari Jumat, dia datang lagi. "Pulpenku ilang. Kamu bawa dua, nggak?"

Aku hanya membawa satu. Sebelum aku sempat menjawab, sebuah tangan terulur dari bangku di sebelah kanan, memegang pulpen biru yang tutupnya sudah digigiti.

"Pakai punyaku aja, Kak," kata Ana.

Sarah menatap Ana selama satu detik yang terasa panjang. Lalu dia menerima pulpen itu dengan senyum yang tipis sekali dan kembali ke bangkunya di belakang.

"Barusan Ana nyelametin kamu," bisik Agus, "pakai satu pulpen."

Pulpen itu tidak pernah dikembalikan. Ketika aku menanyakannya kepada Ana seminggu kemudian, dia hanya mengangkat bahu dan berkata, "Nggak apa-apa. Aku punya banyak." Padahal aku tahu dia hanya pernah membawa dua.

Selama semua itu, dari barisan paling belakang, Andre memperhatikan. Dia tidak pernah mendekat. Dia hanya memperhatikan, dengan cara orang memperhatikan jam dinding di ruang tunggu, menghitung sesuatu yang belum tiba.


Kenyo tidak pernah menyinggung Sarah. Dia menyinggungnya hanya satu kali, di angkot D, hari Jumat itu, dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang membaca terlalu banyak cerita detektif.

"Sarah minjem catatanmu hari Selasa," katanya, tanpa menoleh. "Kamu nulis tiga halaman tentang gerak parabola, sama dua gambar lintasan. Dia balikin hari Rabu."

"Kamu tahu dari mana aku nulis tiga halaman?"

"Kamu duduk di belakangku, Alan. Bunyi halamanmu dibalik itu kedengeran." Dia membetulkan letak kacamatanya. "Hari Rabu dia lewat di sebelah mejaku. Bukunya kebuka. Dia cuma nyalin setengah halaman pertama, terus berhenti. Gambarnya nggak dia salin sama sekali."

Aku menunggu.

"Orang yang cuma nyalin setengah halaman," kata Kenyo, "nggak butuh catatan."

"Terus butuh apa?"

"Butuh alasan."

Dia membuka novelnya. Angkot melewati dua halte dan satu lampu merah, dan selama itu halaman novelnya tidak berganti satu kali pun. Holmes akan menyebutnya petunjuk. Aku menyebutnya hal yang tidak berani kutanyakan.


Demam itu datang pada hari Minggu malam, dan aku tahu penyebabnya, meskipun aku tidak mau mengakuinya kepada siapa pun.

Seminggu sebelumnya aku tidur rata-rata empat jam semalam. Pukul tiga bangun untuk gorengan, pukul enam berangkat sekolah dengan tampah di tangan, pukul tiga sore bimbel, pukul enam gerobak jamu, magrib di masjid, pukul tujuh bilik nomor dua, pukul sepuluh pembukuan Pak Harun, pukul sebelas pembukuan rumah. Tubuh manusia, kata Pak Wiryo suatu hari tentang hal yang sama sekali lain, tidak peduli apa alasanmu. Tubuh hanya menghitung.

Mbah Uti yang pertama tahu. Dia meletakkan punggung tangannya di keningku saat aku lewat di dapur, lalu menarik tangannya seperti orang yang menyentuh panci.

"Kamu itu kebanyakan begadang, Le," katanya, dan sebelum aku sempat membantah, dia sudah menyuruhku tengkurap di tikar dan menggosok punggungku dengan uang logam lima ratusan dan minyak kayu putih. Kerokan Mbah Uti tidak pernah lembut. Setelah selesai, punggungku penuh garis merah gelap seperti peta sungai, dan Mbah Uti memandanginya dengan puas, seolah garis-garis itu membuktikan bahwa dia benar.

Malam itu aku menggigil di bawah dua sarung. Pukul empat pagi aku mendengar Bapak membuka pintu depan untuk berangkat ke masjid. Itu subuh pertama, sejak Mbah Kung meninggal, yang tidak kuikuti di belakang Bapak.

Selepas subuh, Bapak masuk ke kamarku masih memakai peci. Dia menempelkan punggung tangannya di keningku, persis seperti yang dilakukan Mbah Uti, dan aku tiba-tiba sadar dari mana Ibu dan Bapak belajar cara memeriksa demam.

"Salat di kamar dulu, Lan," katanya. "Gusti Allah nggak ngitung jaraknya. Yang dihitung niatnya."

Aku tidak masuk sekolah hari Senin dan Selasa. Aku juga tidak masuk Gading Putih. Dan selama dua malam itu, pukul tujuh tepat, aku berbaring di kasur kapuk yang bau apak, mendengarkan azan isya dari musala di sebelah Pasar Sawung, dan membayangkan sebuah telepon di ujung Jalan Welis yang tidak berdering.

Agus datang hari Selasa sore dengan Kijang hijau dan sekantong jeruk dari ibunya. Dia duduk di ujung kasurku, mengupas jeruk untuk dirinya sendiri, dan mengaku dengan wajah penuh penyesalan bahwa pulsanya habis sejak hari Minggu.

"Aku mau SMS Kenyo, Lan. Sumpah. Tapi voucher dua puluh ribu itu sama dengan dua minggu jadi kurir." Dia memasukkan satu potong jeruk ke mulutnya. "Teori Agus nomor delapan belas: cinta itu gratis, pulsanya yang mahal."


Hari Rabu aku kembali ke Gading Putih dengan wajah yang, kata Susan, warnanya seperti nasi kemarin.

Di setiap pertemuan, sebelum pelajaran dimulai, lembar absen beredar dari bangku ke bangku dan kembali ke meja guru. Namun, yang menyiapkan lembar itu, yang menggaris kolom tanggalnya dengan penggaris dan membawanya kembali ke Bu Tutik selepas kelas, adalah Kenyo. Agus pernah memberitahuku tentang ini pada minggu pertama. Aku tidak pernah memikirkannya sampai hari itu.

Hari itu, sebelum lembar absen mulai beredar, Kenyo berjalan dari barisan depan ke barisan tengah dengan lembar itu di tangannya. Dia berhenti di samping mejaku. Dia tidak melihatku. Dia melihat lembar absen.

"Senin kosong," katanya. "Selasa kosong."

"Demam."

"Kenapa nggak ada yang bilang?"

Aku menoleh ke Agus. Agus menunduk dalam-dalam ke bukunya.

"Pulsa," gumamnya.

Baru saat itu Kenyo mengangkat matanya dan melihat wajahku. Aku melihat sesuatu bergerak di balik kacamatanya, cepat sekali, seperti bayangan yang lewat di jendela.

"Kamu masih pucat," katanya.

Lalu dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku tulis tebal bersampul cokelat polos, dilapisi plastik bening yang ujung-ujungnya dilipat rapi ke dalam. Dia meletakkannya di atas mejaku.

"Bawa pulang. Besok balikin."

"Ini punyamu."

"Iya. Makanya besok balikin."

"Terus kamu belajarnya pakai apa?"

"Alan." Dia menghela napas, seperti guru yang menjelaskan sesuatu untuk ketiga kalinya. "Aku yang nulis. Orang yang nulis selalu ingat."

Dia sudah berbalik ketika dia menambahkan, tanpa menoleh, "Jangan sampai basah."

Aku memandangi buku itu lama sekali. Di belakangku, aku bisa merasakan seseorang juga sedang memandanginya. Ketika aku menoleh, Sarah Nuraini sedang menatap buku cokelat itu, lalu menatap punggung Kenyo yang berjalan kembali ke barisan depan, lalu menatapku. Untuk pertama kalinya, tidak ada senyum di wajahnya.


Fotokopi Jilid Kilat berdiri tepat di seberang gerbang Gading Putih, dan pemiliknya, Mas Yono, adalah laki-laki berumur dua puluhan yang selalu memakai kaus oblong dan selalu memutar radio dangdut keras-keras untuk mengalahkan suara mesin fotokopinya. Mesin itu mengerang setiap kali menyala, seperti sapi tua yang batuk, dan cahayanya yang hijau bergerak dari kiri ke kanan di bawah tutupnya.

Satu lembar seratus rupiah. Buku Kenyo berisi dua puluh enam halaman yang sudah terisi. Dua ribu enam ratus rupiah: hampir sembilan bakwan.

Mas Yono membalik halaman-halaman itu satu per satu di atas kaca mesinnya, dan pada halaman kelima dia berhenti.

"Catatan siapa ini, Mas? Rapi banget. Kayak ketikan."

"Teman."

"Teman," ulang Mas Yono, dengan nada yang persis sama dengan nada Pak Harun ketika berkata soal fisika. Belakangan aku menyadari bahwa Banyuwening dipenuhi laki-laki yang sangat pandai mengulang satu kata.

Malam itu aku menelepon dari bilik nomor dua untuk pertama kalinya setelah tiga hari. Kenyo mengangkat sebelum dering pertama selesai.

"Dua malam," katanya. "Dua malam aku duduk di sebelah telepon."

"Maaf."

"Nggak usah minta maaf. Kamu sakit." Dia diam sebentar. "Lain kali, sakitnya bilang-bilang."

Aku tertawa, dan tawaku membuat dadaku sakit, dan aku tidak peduli.

"Udah kamu fotokopi?" tanyanya.

"Udah."

"Berapa lembar?"

"Dua puluh enam."

"Dua ribu enam ratus. Besok aku ganti."

"Nggak usah."

"Alan."

"Nggak usah."

Aku mendengar dia menghela napas panjang di ujung sana. "Kamu itu keras kepala kayak hukum kekekalan energi," katanya. "Nggak bisa diciptakan, nggak bisa dimusnahkan."

"Cuma bisa diubah bentuknya."

"Itu yang lagi aku pikirin," katanya, dan aku tidak mengerti maksudnya sampai bulan berikutnya.


Setelah pulang dari wartel, setelah pembukuan Pak Harun dan pembukuan rumah, setelah Susan tidur dan Mbah Uti berhenti batuk di kamarnya, aku menyalakan lampu sepuluh watt di atas meja belajarku dan membuka buku cokelat itu. Bukan fotokopiannya. Bukunya.

Aku ingin membacanya sebelum mengembalikannya. Aku tidak tahu cara lain untuk mengatakan ini: aku ingin memegang sesuatu yang dia pegang setiap hari.

Di sampul dalam, dengan huruf yang rapi seperti cetakan, tertulis Isti Kenyo, IPA-1 Gading Putih. Di bawahnya tertempel secarik kertas kecil: jadwal mentoring ROHIS untuk adik-adik kelas sepuluh, setiap Jumat ba'da salat Jumat, dengan tiga nama yang dicentang.

Lalu halaman-halamannya.

Holmes pernah berkata bahwa tulisan tangan seseorang bisa menceritakan lebih banyak daripada wajahnya. Malam itu aku mencoba membaca tulisan Kenyo seperti Holmes membaca surat, dan inilah yang kutemukan.

Dia memakai tinta biru untuk penjelasan dan tinta hitam untuk rumus, sehingga setiap halaman bisa dibaca dengan dua cara: cepat, hanya yang hitam, atau pelan, semuanya. Hal-hal yang pasti keluar di SPMB dia kotaki dengan tinta merah dan diberi bintang kecil di pojok kotaknya. Diagram gayanya digambar dengan penggaris; setiap anak panah punya kepala yang sama besar, setiap label ditulis sejajar dengan panahnya. Gambarnya lebih jelas daripada gambar di buku paket.

Huruf k-nya selalu berekor kecil ke kanan. Titik di atas huruf i selalu bulat sempurna di halaman-halaman Fisika, tetapi berubah menjadi garis pendek di halaman-halaman Kimia, dan tulisannya di halaman Kimia lebih miring, seolah dia menulis sambil berlari. Kesimpulanku: dia bosan pada Kimia. Aku menyimpan kesimpulan itu seperti menyimpan uang logam yang langka.

Tekanannya juga berbeda-beda. Di sebagian besar halaman, tulisannya ringan, hampir tidak membekas di halaman sebaliknya. Namun, di beberapa halaman, tekanan pulpennya begitu keras sampai huruf-hurufnya timbul di halaman berikutnya seperti tulisan braille. Aku tidak tahu apa yang membuat seseorang menekan pulpennya sekeras itu. Aku mencatatnya di kepalaku, di tumpukan hal-hal yang belum kumengerti tentang Isti Kenyo, yang setiap minggu bertambah tinggi.

Lalu, di halaman sembilan belas, di pinggir sebuah soal tentang benda yang meluncur di bidang miring, aku melihatnya.

Alan bilang: pakai kekekalan energi aja, nggak usah cari waktunya dulu.

Aku membaca kalimat itu tiga kali. Aku ingat kapan aku mengatakannya: di angkot D, dua minggu sebelumnya, ketika dia bertanya tentang soal itu dan aku menjawab sambil memandang keluar jendela karena tidak berani memandangnya.

Aku membalik halaman-halaman berikutnya. Ada lagi. Alan bilang: gambar dulu, baru hitung. Lalu lagi. Alan bilang: kalau jawabannya negatif, cek arah panahnya. Empat kali, dengan tinta biru, di pinggir halaman, di antara rumus-rumus Pak Wiryo, seolah kata-kataku pantas disimpan di samping kata-kata seorang guru.

Empat belas tahun kemudian, namaku sudah tercetak di jurnal-jurnal fisika internasional, dikutip oleh orang-orang yang tidak pernah kutemui di negara-negara yang belum pernah kukunjungi. Tiba-tiba aku serasa kembali ke kamar itu, ke lampu sepuluh watt dan kasur kapuk yang bau apak, karena tidak satu pun dari kutipan-kutipan itu pernah membuatku tidak bisa tidur seperti empat baris tinta biru di pinggir buku catatan seorang gadis SMA.

Malam itu aku tidak tidur sampai azan subuh.


Keesokan sorenya aku mengembalikan buku itu, terbungkus kantong plastik hitam yang lipatannya sudah kurapikan dua kali.

Kenyo menerimanya dan memandangi kantong plastik itu dengan alis terangkat.

"Kamu bungkus?"

"Biar nggak basah."

"Hari ini nggak hujan, Alan."

"Jaga-jaga."

Dia membuka kantong itu pelan-pelan, seperti membuka kado, dan aku melihat ujung bibirnya bergerak, sedikit sekali, ke arah yang selama ini hanya kulihat di angkot D, dan tidak pernah di kelas.

Aku kembali ke bangkuku dengan perasaan seseorang yang baru saja lolos dari sesuatu yang tidak bisa dia namai. Namun, aku belum sempat duduk ketika Sarah Nuraini berjalan dari barisan belakang ke barisan tengah, berhenti di samping bangku Agus, dan tersenyum kepadanya.

"Gus, tukeran tempat, ya. Kamu di depan aja. Deket kipas angin."

Agus membuka mulutnya, menutupnya lagi, menatapku, lalu mengambil tasnya dan pindah dengan wajah seorang raja yang baru saja diasingkan dari kerajaannya sendiri.

Sarah duduk. Wangi manis dan mahal itu memenuhi ruang di antara kami. Dia meletakkan buku catatannya di atas mejaku, terbuka di halaman yang masih kosong.

"Ajarin aku, ya," katanya. "Aku bayar."

889296100104108
ON AIR   0:00